Tuesday, November 28, 2017

Dari Alih Kode ke Strategi Komunikasi: Bukti Dua Sistem Dalam Dwibahasa Dini


Pendahuluan
Capaian pemerolehan bahasa oleh anak bukanlah hasil dari sebuah proses acak tetapi dari sebuah proses sistematis. Semua ahli pemerolehan bahasa tidak ada yang meragukan kesistematisan proses pemerolehan bahasa oleh anak bahkan juga proses pemerolehan bahasa oleh orang dewasa dan, oleh karena ifulah, berbagai teori dalam pemerolehan bahasa dihasilkan. Yang tidak disepakati secara bersama adalah dasar-dasar yang diiadikan landasan turtuk menjelaskan kesistematisan tersebut.
Dalam kasus dwibahasa, baik dwibahasa serempak (simultaneous bilingualism) atau dwibahasa sebagai bahasa pertama (bilingualism as first language) maupm dwibahasa benrut (sequential bilingualism), salah satu fenomena yang sering mendapat perhatian adalah perrrasalahan alih kode (code switching). Fenomena alih kode saat ini dipandang sebagai hat yang biasa, alami, dan bermanfaat dalam keterampilan berbahasa, meskipun dahulu dipandang sebagai bulrti rendahnya keterampilan berbahasa, ketidakmampuan melakukan differensiasi pada bahasa yang digunakan, dan bahkan sebagai tanda penyimpangan dari nonna dwibahasa (Brice dan Andersot 1999 dan Reyes 1995 dalam Pert and Stow 2003).
Makalah ini akan memerikan beberapa temuan dari pengamatan awal (prelirninary observation) saya berkaitan dengan fenomena alih kode dalam anak dwibahasa dini yang dilakukan terhadap bahasa Inggris (Bing) Ridho (R) yang saat diobservasi berumur 3,? - 3,4 tahun. (R) adalah seofimg anak Indonesia yang dibesarkan dalam progiln dwibahasa nonnative porents sejak lahir oleh ayahnya ayng bersuku Jawa dan ibunya yang bersuku Mmdailing. Dalam program dwibahasa tersebut, ayahnya selalu berbahasa Inggris pada Ridho, ibunya sebagian besar berbahasa lndonesia, dan yang lainnya hampir selalu berbahasa lndonesia. Sebagian besar waktu ayahnya dihabiskan di luar rumah, sehingga lingkungan bahasa Indonesianyajauh lebih besar dari pada lingkungan bahasa tnggrisnya- Selain dengan ayahnya dan sebagian dengan ibunya, lingkungan Bing Ridho diperoleh dari vcd, kaset lagu, televisi, dan juga buku-buku cerita dalam Bing. Sampai saat ini Ridho belum masuk kelompok bermain dan masih hanya belajar di rumah.

Sekilas Isu Alih Kode Mutakhir
Alih kode didefinikan oleh Meisel (1995) dalam Galasso (1999) sebagai satu keterampilan khusus yang berkaitan dengan kornpetensi pragrnatik dwibahasa seperti kemampuan memilih bahasa sezuai lawan bicaranya, konteks, dan topik pembicaraan tanpa mengganggu batasan sintaktis yang ada. Definisi dalam ruang lingkup pragmatik tersebut diberikan untuk mengakomodasi ketidalonampuan penjelasan alih kode berdasarkan proyeksi fungsional (Spradlin et.al. 2003). Sementara itu, Spradlin et.al (2003) menggunakan fenomena alih kode sebagai alat analisis dominasi dalam penegertian preferensi bdhasa pada anak dwibahasa dini.
Fenomena atih kode juga digunakan sebagai bukti-bukti dalam pembahasan yang sudah cukup lama berkembang dalam kasus dwibahasa, yaitu permasalahan apakah anak dwibahasa dini mempruryai satu sistem atau dua sistem yang berbeda atau sering disebut dengan istilah Unitary System Hypothesis (USH) (Wapole 2000, Yip 20AD. Meskipun tidak dengan memberikan tanggapan secara rinci terhadap argumen-argumen yang diberikan oleh mereka yang mernbahas permasalahan satu sistem atau dua dalam anak dwibahasa dini, Macswan (2000) lebih berpendapat bahwa proses gramatikal baik dalam kasus ekabahasa  maupun dwibahasa harus dipandang dalam kerangka yang sama dan menawmkan sebuah struktur ruang (faculty) bahasa untuk dwibahasa di mana anak dwibahasa dini dipandang memiliki dua Ieksikon dengan sistem bahasa yang tunggal. Gagasan ini tebih dikenal dengan istilah Single System Hypothesis (SSH).
Semua penelitian tentang alih kode yang telah dilakukan tersebut, sebagaimana disebutkan pada awal makalah ini, tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa fenomena alih kode dalam anak dwibahasa dini adalah hasil dari sebuah proses yang sistematis. Tampak bahwa paling tidak terdapat empat permasalahan yang berkaitan dengan fakta alih kode pada anak dwibahasa dini. Keanpat permasalahan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu apakah alih kode lebih tepat diletakkan dalam penjelasan kompetensi pragnatik atau batasan gramatikal (grammatical constraints) dan apakah alih kode merupakan bukti satu atau dua sistem dalam anak dwibahasa dini.
Berkaitan dengan kesistematisau pemerolehan bahasa di atas, sejunlah data pemerolehan bahasa oleh Ridho yang telah diamati juga menguatkan keyakinan kesistematisan pada proses pemerolehan bahasa (Kusmanto 2003, Kusmanto dan Pr.rlungan in press). Dengan berasumsi pada kesistematisan tersebut, temuan dari pengamatan awal ini dapat digunakan untuk menilai pendapat-pendapat tentang satu atau dua sistern dalam kasus dwibahasa dini dari fenomena alih kode sebagaimana dipaparkan sebelumnya secara ringkas.

Perkembangan Alih Kode: Dari Satu ke Dua Sistem
Dari data yang diamati, penggunaan bahasa Indonesia (Bind) oleh (R) ketika berbicara dalam Bing hanya berkisar pada penlsipan kata. Apabila penggu;laan kata bukan dalarn bahasa matriksnya tidak berkaitan dengan kesistematisan yang dapat menjelaskan penggunaan kata tersebut, keadaan tersebut bukan alih kode tetapi hanya campur kode (code mixing). Itu terjadi karena anak hanya masih mengetahui satu kata sebagai referensinya dan anak akan segera beralih ke kata bahasa matriks jika input kata baru diberikan seperti dalam (1). Akan tetapi, pada masa awal pemerolehan, pemberian input dengan kata lain biasanya tidak dapat langsung diterima oleh anak seperti dalam (2). Dengan alasan adanya periode inilah saya mendukung pordapat perkembangan bertahap dari satu sistem ke dua sistem dalam anak dwibahasa dini.

(l )        R :       Daddy.. I want to go to the market with momrny to buy kelapa
O :       What do you want to buy?
C :       Mommy want to btry kelapa
O :       What is kelapa?
C :       Kelapa daddy
O:        Coconut?
C :       Coconut, yes. I lyant to buy coconut.
(R: Ridho and O:Observer; Ridho pada3,4 tahun)

(2)        O:        Please, don't play with a knife
            R:        No, not with a knife
O:        There you are. You are playrng with a knife.
R:        Not a knife, this pisau.
O:        Allright, don't play with that. [t's dangerous.
R:        dangerous? Yes?
(Ridho pada 2,5 tahun)

Salah satu alih kode tingkat leksikal yang diperlihatkan oleh (R) adalah penggunaan kata 'opung' yang selalu digunakan untuk mengacu pada 'kakek/nenek' Oari pitratr ibunya meskipun sedang berbicara dalam Bing. Oleh karena itu, penggunaan kata 'opung' bersifat sistematis karena konteks refer€,nsial budaya. Hal ini dapat itijelaskan karena ayatrnya sendiri menggunakan kata 'opung' untuk mengacu pada 'kakek/nenek' dari pihak istrinya. Alasan lain yang dapat digunakan adalah kemampuan (R) menggrmakan frasa 'old man' untuk mengacu pada orang lansia yang dia lihat dan tidak dia kenal. Pendapat perkembangan bertahap dari satu sistern ke dua sistem dapat didukung dari data ini ketika (R) juga melalui tahap overgeneralisasi kata 'opung' yang dia gunakan mengacu pada semua orang lansia.
Yang menarik adalah ketika kata 'opung' berada dalam konstnrksi posesif seperti dalam (3).

(3)        a. *house   opung
     ‘grandpa’s haouse’
      Rumah kakek
           
b. *car      opung
     ‘grandpa’s car’
     mobil kakek

c. *adik           pillow
    ‘little sister’s pillow’
                 Bantal adik

Pembentukan konstruksi posesif (3) hingga saat ini masih sering mengalami kesalahan. Padahal, (R) sudah dapat membuat konstruksi posesif Bing seperti konstruksi posesif (3) dan konstruksi posesif dengan posesif adjekttf my. Kesalahan konstruksi posesif yang dihasilkannya selalu disertai oleh kata'opung' di dalamnya. Fenomena ini sama dengan yang dilaporkan oleh Andonova (PK, 6 Januari 2004) pada kasus dwibahasa Bulgaria-Jerman. Ini juga sama dengan anak ekabahasa Peraucis yang menghasilkatr papa voiture (Nicoladis PC-6 Januari 2004) untuk konstruksi (4).

(4)        la      voiture de     papa
ART mobil   PREP ayah
           'mobil ayah'

Nicoladis (Komunikasi Personal-KP, 6 Januari 2004) menawarkan tiga kemungkinan penyebab kesalahan tersebut, (a) pengaruh konstruksi poss adj + nomina, (b) pengaruh lingkungan pemerolehan dari bahasa Inggrs yang sangat besar seperti daddy's car, (c) keacakan dalam menyustm urutan dua nomina. Tampaknya ketiga penjelasan tersebut tidak dapat digr.urakan untuk kesalahan (4). Karena kesalahan ini hanya muncul dengan kata 'opung', tampaknya ini sebuah misteri yang sampai saat ini belum dapat dijetaskan kecuali dengan istilah fosilisasi (fossilization). Akan tetapi, perkembangan pemerolehan konstmksi posesif dalam Bind dan Bing dapat diterangkan dengan menggunakan penjelasan markedness seperti ditawarkan oleh Pearson (KP, 5 Januari 2004), meskipun masih perlu diuji dengan bahasa-bahasa lainnya.
Begitu juga dalam kaitannya dengan fenomena Root Infinitive (RI), saya tidak dapat mengatakan bahwa fenomena R[ pada Bing (R) merupakan bentuk dominasi Bind. Akan tetapi, jika kita menggunakan pendapat Spradlin et.al. (2003) kita dapat beranggapan bahwa fenomena RI dalam Bing (R) merupakan benhrk yang didominasi oleh Bing. Dalmr kasus (R), perrnasalahan RI yang ada dalam Bing tidak dapat ditandingkan dengan eind. Akan tetapi, campur kode dengan sintaksis bahasa matriks justru menguatkan dugaan penguasaan dua sistem sejak dini seperti dalam (5) (Kusmanto 2003).

(5)        Nanti pohonnyadi-chop down sama daddy
Mosquito-nya di-slap aja ya
(Ridho, 2,9 tahun dalam Bind)

Strategi Komunikasi: Bukti Baru Dua Sistem?
Sfiategi komwrikasi (SK) sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa kedua. Dalam kasus dwibahasa, SK sering hanya membicarakan bagaimana strategi komunikasi digunakan unnrk mernbentuk anak dwibahasa. Dengan kata lain, permasalahan tentang SK selama ini hanya berkaitan dengan eksposur. SK yang terjadi dalam kasus dwibahasa ternyata juga menarik untuk diamati.
SK dalam makalah ini lebih mengacu pada istilah yang digunakan dalam pemerolehan bahasa kedua untuk merujuk pada strategi yang digunakan oleh penutur ketika tidak mendapat akses terhadap bahasa sumber yang diperlukan unhrk menyampaikan makna (Ellis l9S5). SK perttrna yang digrmakan oleh (R) adalah campur kode dan alih kode seperti dalam (1) - (5). Setelah pemerolehan kedua bahasa berkembang rnenjadi dua sistsm, apakah alih kode (R) berubah menjadi sebuah sfrategi baru seiring menguatnya arah dua sistemnya.
Data awal perkembangan Bing (R) menunjukkan bahwa SK dengan alih kode berubah menjadi SK dengan bahasa sumber sendiri melalui cara penjelasan seperti dalam (6).

(6)        O :       Go to the kitchen, take a cloth, and clean your mouth
C :       Only clean with the /Ietji:f/ daddy
O :       fletji:f/?
C :       yes, with daddy fletji:f/
O :       my /letji:ffl what's that?
C :       This daddy. The cloth fromthepocket
Like this (memperagakan cara mengambilnya)
O:        Handkerchief
C :       (Tersenyum) yes, only clean with daddy handkerchief
O :       Okay. What you have to say?
C :       Daddy, would you please give the handkerchie{ pleasssseee?

Berbeda dari tahap sebelumnya, di sini (R) tidak begitu saja manggunakan SK alih kode dengan mengatakan 'sapu tangan'. Ini menunjukkan bahwa kesadaran falrasa (language awareness) sebagai wujud dari dua sistem yang terbentuk mempengaruhi SK yang digunakan oleh penutur. Penutur tetap bergantung pada bahasa sumber, meskipun penutur tahu bahwa Iawan bicaranya mengetahui juga bahasa target alih kodenya seperti dalam (7).

(7)        C :       When I go to the airport,...
O :       When I went to the airport.. okay, go on.
C :       Wren I went to the airport, I show you flre airplane
Daddy!l That the airplane. But the airplane has no /letjOr/
O :       The airplane has no what?
C :       Has no /letjOr/ daddy
O :       What is fletjOr/? [ don't know what you mean.
C :       The airplane has wing, we jump from the wing of the airplane
But Mas Ridho can not jump very high
So Mas Ridho call daddy.. Daddy!! Hold mas Ridho
The airplane has no lletjlrl
O :       lletj0rt? What's that? t still cant understand what you msan.
The airplane has wings
C :       The airplane has wings
O :       We go from the window to the wing?
C :       No, daddy. We jump onthe wing.
There is no /Ietj0r/
O :       I am sorr],. I don't undersatnd what you mean by lletj1rl
C :       This daddy.. tanesfl (diucapkan dengan pelan dan tersenyum-senyum)
O :       ooo.. ladder
C :       Yes daddy. The airplane has no ladder.
O :       You mean the airplane has no stairs?
C :       Not ladder? The name is stair?
If ladder is like in the opung house, yes?

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa pemerolehan bahasa anak dwibahasa memperlihatkan perkembangan secara bertahap dari satu ke dua sistem. Penggunaan campur kode dan alih kode tidak semata-mata merupakan jalan pintas dalarn berkomunikasi, tetapimerupakan bagian sistematis dari proses pembentukan dua sistem bahasa yang sedang dihadapinya. Penggunaan secara maksimal bahasa sumber unttrk menyampaikan sebuah makna yang ingin disampaikan merupakan sebuah indikator adanya proses pembentukan dua sistem pada anak dwibahasa.

Ucapan Terima Kasih
Terima kasih atas sejumlah masukan berharga melalui Komunikasi Personal Email kepada Jeff Macswan (Arizona State Univeristy), Barbara Zurer Pearson (University of Massachusetts), Elora Nicoladis (University of Alberta), dan Elena Andanova terhidap pertannyaan saya tentang pemerolehan konstruksi posesif anak dwibahasa di forum Info-CHILDES.

Rujukan
Cheng, Karen Kow Yip. 2003. Code-switching for a purpose: focus on pre-school Malaysian children. Multilingua 22,59 -77
Ellis, Rod. 1985. understanding second languoge ocquisition cambridge: CUP
Galasso, Joseph. 199,9. The acquisition of functional categories. New York: IULC press
Graney, Sharon. 1997. Were does speech lit it? Spohen Englkh in a bilingual context.
Gallaudet University: the Laurent Crerc National Deaf Education Center.
Kusmanto, Joko. 2003. Perkembangan sintoksis bahasa Inggrk anak dalam progrorn dwibahasa non-notive poTentt (studi hasus Mahammad Rasyirl Ridho).Makalahdisajikan pada Serninar Pertemuan Linguistik UTARA 2,7-B Juli 2003, Medan.
Kusmanto, Joko & Anni Holila Pulungan. 2003. ‘The acquisition of English negation .no, and 'not': Evidences from an lndonesian child in non.native parent bilinguat program. Journal K@la, Vol 5. No.1. (Ak;reditasi B),. Universitas Kriiten Petra, Surabaya
MacSwan, J. 20A0. The architecture of flre bilingual language faculty: evidence from intrascntential code-switching. Bilingualism: Innguage and CognitionS (l):37 – 54
Muysken, Pieter. 2000. Bilingual speech: typorow of code-mixing. cambridge: cup Pert, Sean dan Carol Stow. 2003. Identi{ying diwrdu within code-switched language samples: the chollmge for speech and language therapkts assessing longuagi skils in bilingual children. Poster disajikan pada Child Language Seminar 2003, University of Newcastle, UK.
Spradlin, Kenton Todd, Juana Liceras, dan Raquel Fernandes. 2003. Functional-lexical codemixing patterns as evidence for language dominance in young bilingual children: a minimalist approach. Dalam Juana M. Liceras, et.al. (eds.). froceiding of the Generative Approach ta Second language Acquisition (GASLA 2002). Somerville, MA: Cascadilla Proceedings Project Wapole, Colleen. 2000. The bilingual child: one system or two? Dalam e. V. Ctart< 1eO.;Proceeding of the 3d' Annual Child Language Research Forum30. Stanford, CaL: Center for the Study of Language and Information.

Yip, Virginia.2N2. Early sintuctie development in Cantanese * English bilinguat children. Makalah pada the International Symposium on Comtemporary finguistics, lg * 2l Oktober 2002. Foreign Studies Universiff, Beijing.

No comments:

Post a Comment