Tuesday, June 30, 2026

ALUR PERUMUSAN CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN (CPL) DENGAN METODE "DUAL HELIX"

 ALUR PERUMUSAN CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN

DENGAN METODE DUAL HELIX©

Oleh Joko Kusmanto

 

1. Latar Belakang Metode Dual Helix©

Selama lebih dari dua dekade, Outcome-Based Education (OBE) telah menjadi paradigma utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Pendekatan ini berhasil menggeser orientasi pembelajaran dari teaching-centered menuju learning-centered dengan menempatkan capaian pembelajaran (learning outcomes) sebagai pusat desain kurikulum (Caspersen, 2017). Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa implementasi OBE, khususnya pada tahap perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), masih menghadapi sejumlah persoalan metodologis yang belum sepenuhnya teratasi.

Beberapa kritik utama terhadap praktik perumusan CPL dalam OBE dapat dirangkum pada Tabel berikut.

Kritik terhadap OBE

Temuan dalam Literatur

Respon Metode Dual Helix©

Belum berbasis bukti (evidence-based). Rumusan CPL umumnya disusun melalui expert judgement, benchmarking, atau lokakarya tanpa mekanisme derivasi yang eksplisit dari praktik profesional.

Prøitz (2010); Hussey & Smith (2008)

Job Task Inventory menjadikan Job Task dunia kerja sebagai unit evidensi utama sehingga seluruh proses derivasi dimulai dari fakta empiris.

Logical leap dan rendahnya traceability. Hubungan antara dunia kerja, capability, pengetahuan, dan CPL tidak dapat ditelusuri secara sistematis.

Hussey & Smith (2008); Caspersen (2017)

Dual Helix© membangun Capability Framework dan Knowledge Framework sebelum CPL dirumuskan sehingga setiap komponen CPL memiliki asal-usul metodologis yang jelas.

Berorientasi pada kepatuhan administratif. Learning outcomes sering menjadi instrumen akreditasi dan tata kelola daripada representasi autentik kompetensi lulusan.

Hussey & Smith (2002, 2008); Caspersen (2017)

CPL dibangun melalui evidence-based curriculum derivation, bukan sekadar memenuhi format administrasi.

Mengaburkan identitas disiplin (disciplinary identity). Rumusan CPL yang generik kurang merefleksikan karakteristik disiplin ilmu.

Caspersen et al. (2014)

Core–Enabling Capability Analysis membangun orientasi disiplin sehingga identitas program studi berasal dari struktur capability, bukan hanya dari konteks rumusan CPL.

Reduksionistik dan terlalu berorientasi pada outcome yang telah ditentukan sebelumnya.

Bagnall (1994); Hussey & Smith (2002, 2008)

Capability dan pengetahuan dikonstruksi dari kompleksitas praktik profesional sebelum disintesis menjadi CPL.

 

Berangkat dari berbagai kritik tersebut, dapat diidentifikasi adanya kesenjangan metodologis (methodological gap) dalam implementasi OBE. Hingga saat ini belum tersedia suatu metode yang secara eksplisit menjelaskan asal-usul setiap komponen penyusun CPL, yaitu behavior (verb), knowledge domain (noun), dan academic context, serta bagaimana ketiga komponen tersebut diturunkan secara sistematis dari evidensi dunia kerja.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan Metode Dual Helix©, yaitu suatu pendekatan evidence-based curriculum derivation yang membangun CPL melalui dua konstruksi yang saling berkaitan. Jalur pertama, Capability Construction, menghasilkan Capability Framework, sedangkan jalur kedua, Knowledge Construction, menghasilkan Knowledge Framework (Bahan Kajian). Kedua framework tersebut kemudian disintesiskan bersama Academic Context sehingga menghasilkan rumusan CPL yang memiliki keterlacakan metodologis secara utuh.

 

2. Kontribusi Konseptual (Novelty) Metode Dual Helix©

Metode Dual Helix© menawarkan beberapa kontribusi konseptual yang membedakannya dari pendekatan OBE konvensional.

  1. Evidence-Based Curriculum Derivation
    Proses perumusan CPL dimulai dari Job Task Inventory sebagai evidensi empiris dunia kerja, bukan dari expert judgement semata.
  2. Dual Framework Construction
    Sebelum CPL dirumuskan, dibangun terlebih dahulu dua framework yang berbeda namun saling terkait, yaitu Capability Framework dan Knowledge Framework.
  3. Methodological Traceability
    Setiap komponen penyusun CPL memiliki asal-usul metodologis yang eksplisit dan dapat ditelusuri kembali hingga Job Task sebagai sumber evidensi.
  4. Capability–Knowledge Synthesis
    Rumusan CPL dipandang sebagai hasil sintesis tiga komponen, yaitu:

Behavior (Verb) ← Capability Framework

Knowledge Domain (Noun) ← Knowledge Framework (Bahan Kajian)

Academic Context ← PEO, Profil Lulusan, dan karakter disiplin ilmu

  1. Disciplinary Identity melalui Core–Enabling Capability
    Dual Helix© menunjukkan bahwa identitas suatu program studi tidak dibedakan oleh Profil Lulusan, melainkan oleh struktur Core Capability dan Enabling Capability yang terbentuk selama Capability Construction. Dengan demikian, dua program studi dapat memiliki Profil Lulusan yang sama, tetapi menghasilkan CPL yang berbeda karena memiliki orientasi capability yang berbeda.
  2. Knowledge Construction sebagai Jalur Independen
    Bahan Kajian tidak diturunkan dari rumusan CPL maupun langsung dari Job Task, tetapi dikonstruksi dari Professional Practice Entity (PPE) yang telah terorganisasi dalam Capability Framework, sehingga hubungan antara kemampuan profesional dan domain pengetahuan menjadi lebih logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

3. Rujukan

Adam, S. (2004). Using learning outcomes: A consideration of the nature, role, application and implications for European education of employing learning outcomes. Bologna Seminar.

Bagnall, R. (1994). Performance indicators and outcomes as measures of educational quality: A cautionary critique. International Journal of Lifelong Education, 13(1), 19–32.

Caspersen, J. (2017). Higher education learning outcomes—Transforming higher education? European Journal of Education, 52(1), 3–7.

Caspersen, J., Frølich, N., Karlsen, H., & Aamodt, P. O. (2014). Learning outcomes across disciplines and professions: Measurement and interpretation. Quality in Higher Education, 20(2), 195–215.

Hussey, T., & Smith, P. (2002). The trouble with learning outcomes. Active Learning in Higher Education, 3(3), 220–233.

Hussey, T., & Smith, P. (2008). Learning outcomes: A conceptual analysis. Teaching in Higher Education, 13(1), 107–115.

Prøitz, T. S. (2010). Learning outcomes: What are they? Who defines them? When and where are they defined? Educational Assessment, Evaluation and Accountability, 22(2), 119–137.

4. ALUR PERUMUSAN CPL DENGAN METODE DUAL HELIX©

1. Graduate Profile

Proses diawali dengan menetapkan Graduate Profile sebagai representasi peran profesional yang diharapkan dapat dijalankan oleh lulusan. Profil lulusan dirumuskan berdasarkan Program Educational Outcomes (PEO), kebutuhan dunia kerja, masukan pemangku kepentingan, serta karakter disiplin ilmu program studi. Profil lulusan inilah yang menjadi titik awal seluruh proses pengembangan kurikulum.

2. Job Task Inventory (JTI)

Setelah profil lulusan ditetapkan, dilakukan Job Task Inventory (JTI) untuk mengidentifikasi, memverifikasi, dan menginventarisasi seluruh Job Task secara verbatim dari berbagai sumber empiris dunia kerja, seperti deskripsi pekerjaan industri, standar profesi, tracer study, benchmarking, observasi praktik kerja, dan masukan pemangku kepentingan. Seluruh Job Task dipertahankan sebagai unit evidensi tanpa melalui proses clustering maupun reduksi sehingga keterlacakan terhadap sumber empiris tetap terjaga dan menjadi dasar analisis berikutnya.

3. Dual Helix Construction©

Berdasarkan Job Task yang telah terinventarisasi, proses selanjutnya memasuki Dual Helix Construction©, yaitu dua jalur konstruksi yang saling berkaitan namun memiliki tujuan berbeda. Jalur pertama membangun Capability Framework, sedangkan jalur kedua membangun Knowledge Framework. Kedua jalur tidak berjalan secara paralel sejak awal. Knowledge Construction dimulai setelah Capability Framework terbentuk, karena framework tersebut berfungsi sebagai organizing framework dalam mengorganisasi Professional Practice Entity (PPE) yang akan dikonstruksi menjadi pengetahuan.

Helix 1 – Capability Construction

Setiap Job Task dianalisis melalui identifikasi Main Verb dan Professional Practice Entity (PPE) yang kemudian diabstraksikan menjadi Professional Capability. Capability tersebut selanjutnya dianalisis melalui lima tahapan, yaitu Professional Capability Identification, Normative Capability Matching, Cross-Profile Validation, Professional Capability Complexity Analysis, dan Core–Enabling Capability Analysis, sehingga dihasilkan Capability Framework yang terdiri atas Normative Capability, Transferable Professional Capability, Core Capability, dan Enabling Capability.

Helix 2 – Knowledge Construction

Setelah Capability Framework terbentuk, Professional Practice Entity (PPE) yang telah terorganisasi digunakan sebagai pembawa utama (primary carrier) pengetahuan. PPE kemudian dikelompokkan melalui Knowledge Affinity Clustering, disatukan melalui Knowledge Theme Construction apabila beberapa klaster masih memiliki kedekatan konseptual, diintegrasikan melalui Knowledge Integration, dan akhirnya diabstraksikan menjadi Knowledge Framework berupa Bahan Kajian (BK) yang merepresentasikan domain pengetahuan setiap Profil Lulusan.

4. Capability–Knowledge Synthesis

Setelah kedua framework selesai dibangun, dilakukan proses Capability–Knowledge Synthesis untuk menyatukan Capability Framework, Knowledge Framework (Bahan Kajian), dan Academic Context. Pada tahap ini, Capability Framework menyediakan komponen behavior (verb), Knowledge Framework menyediakan knowledge domain (noun), sedangkan Academic Context memberikan identitas disiplin, orientasi Program Educational Outcomes (PEO), serta ruang praktik profesional tempat capability tersebut diterapkan.

5. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

Hasil akhir proses adalah rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang disusun berdasarkan anatomi:

Behavior (Verb) + Knowledge Domain (Bahan Kajian) + Academic Context

Melalui mekanisme Dual Helix©, setiap komponen dalam rumusan CPL memiliki asal-usul metodologis yang jelas dan dapat ditelusuri kembali hingga Job Task yang menjadi sumber evidensinya. Dengan demikian, rumusan CPL yang dihasilkan bersifat berbasis bukti, sistematis, terlacak, dan berorientasi keilmuan, sekaligus mencerminkan identitas akademik program studi dan kebutuhan dunia kerja secara terpadu.

 

 

Thursday, December 4, 2025

2. Dari Insting ke Bahasa: Sebuah Lompatan Evolusioner

 Pada awal kehidupannya, tangisan bayi adalah alat vital untuk kelangsungan hidup. Tangisan menjadi sinyal pertama yang digunakan bayi untuk berkomunikasi dengan dunia. Melalui tangisan, mereka memberi tahu pengasuhnya bahwa mereka lapar, merasa tidak nyaman, atau membutuhkan perhatian.


Bayangkan jika seorang bayi tidak menangis sama sekali. Ini bukan hanya menjadi tanda adanya gangguan kesehatan, tetapi juga memperbesar risiko bayi kesulitan menyampaikan kebutuhannya. Tanpa tangisan sebagai peringatan, bayi mungkin tidak diberi makan tepat waktu atau tidak mendapatkan perlindungan yang cukup.

Namun, tangisan memiliki keterbatasan. Ia hanya dapat menyampaikan pesan-pesan dasar, sering kali ambigu, dan tidak cukup mampu menggambarkan pemikiran yang lebih kompleks. Bagaimana mungkin seseorang menyatakan cinta, menceritakan pengalaman, atau menjelaskan ide abstrak hanya dengan tangisan? Di sinilah bahasa muncul sebagai sebuah lompatan evolusioner yang mengubah segalanya.

Berbeda dengan spesies lain, manusia memiliki kemam-puan untuk mengembangkan sistem komunikasi yang sangat canggih. Kita tidak hanya mengeluarkan suara, melainkan menyusunnya menjadi kata-kata, frasa, dan kalimat dengan makna yang disepakati bersama. Kemampuan ini adalah apa yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya, menjadikan kita satu-satunya spesies yang mampu memba-ngun dunia melalui bahasa.

Menurut Noam Chomsky (1957), seorang linguis revolusioner, manusia memiliki perangkat bawaan dalam otaknya yang memungkinkan kita mempelajari dan menggunakan bahasa dengan mudah. Ini menjelaskan menga-pa anak-anak di seluruh dunia, terlepas dari bahasa ibu mereka, melalui tahapan perkembangan bahasa yang serupa—mulai dari suara-suara acak (babbling), mengucapkan kata pertama, hingga akhirnya menyusun kalimat sederhana. Namun, para ilmuwan berbeda pendapat terkait dengan wujud yang disebut perangkat bawaan tersebut. Apakah berupa perangkat fisik, perangkat program khusus, atau lainnya.

Bayi di Jepang, Prancis, Indonesia, dan belahan dunia manapun, semuanya memulai perjalanan bahasa dengan pola serupa. Mereka mengeluarkan suara-suara acak, kemudian mengucapkan kata-kata sederhana seperti "mama" atau "papa," lalu menggabungkan kata-kata menjadi kalimat yang lebih kompleks. Fenomena ini membuktikan bahwa kemam-puan berbahasa bukan semata hasil dari pembelajaran, melainkan sudah tertanam dalam diri manusia sejak lahir.

Steven Pinker (1994), dalam bukunya The Language Instinct, menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah "insting", bukan sekadar keterampilan yang harus diajarkan secara eksplisit. Kita tidak perlu diajari bagaimana menangis; demikian juga kita tidak perlu diajari bagaimana berbicara, karena otak manusia telah diprogram secara alami untuk memproses bahasa.

Tentu saja, lingkungan tetap memainkan peran krusial. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang kaya bahasa akan berkembang lebih cepat dibandingkan anak yang minim stimulasi verbal. Anak yang sering diajak berbicara, dibacakan buku, dan dilibatkan dalam interaksi verbal akan memiliki kosa kata yang jauh lebih luas dibandingkan anak yang kurang mendapatkan rangsangan tersebut.

Misalnya, bayi Indonesia yang lahir di Tarutung namun diadopsi oleh keluarga Inggris dan dibesarkan di Liverpool akan tumbuh sebagai penutur bahasa Inggris, bukan bahasa Batak. Demikian juga, bayi asal Swedia yang diadopsi oleh keluarga Jawa di Yogyakarta akan tumbuh berbicara dalam bahasa Jawa. Artinya, tidak ada template bahasa tertentu yang sudah ditentukan saat lahir. Semua bayi di dunia memiliki potensi yang sama untuk berbicara bahasa apa pun, tergantung pada lingkungan tempat mereka tumbuh.

Otak dan alat bicara manusia memiliki fleksibilitas luar biasa untuk menyerap bahasa apa pun yang ada di sekitarnya. Dari tangisan hingga kata-kata pertama, dari suara tanpa makna hingga percakapan yang terstruktur—perjalanan baha-sa manusia adalah kisah evolusi yang mengagumkan. Kemam-puan kita untuk berbicara bukan hanya hasil dari pembela-jaran, tetapi juga bagian dari warisan biologis yang sudah tersedia sejak manusia pertama kali ada.

Bahasa memungkinkan kita berbagi cerita, mengung-kapkan perasaan, dan membangun peradaban. Tanpa bahasa, tidak akan ada sejarah, tidak akan ada ilmu pengetahuan, dan tidak akan ada budaya seperti yang kita kenal hari ini. Inilah yang membuat manusia unik—kita bukan hanya makhluk yang hidup, tetapi juga makhluk yang berbicara dan bercerita.

Namun, kemampuan berbahasa ini bukan sesuatu yang statis. Bahasa terus berkembang dan beradaptasi seiring perubahan zaman, teknologi, dan interaksi antarbudaya. Setiap hari, kita diperkenalkan pada kata-kata baru, ungkapan-ungkapan baru, dan bahkan bentuk bahasa gaul baru yang muncul melalui media sosial dan teknologi komunikasi.

Fleksibilitas otak manusia memungkinkan kita menyerap dan memproses informasi-informasi baru ini. Akibatnya, bahasa kita tidak hanya bertahan, tetapi juga terus tumbuh, diperkaya, dan diperbarui.

Perkembangan teknologi, seperti internet, media sosial, dan aplikasi pesan instan, turut mempercepat perubahan ini. Kita semakin terbiasa dengan komunikasi yang ringkas, informal, dan penuh dengan emoji atau singkatan. Meskipun kadang-kadang dianggap sebagai penurunan kualitas bahasa, kenyataannya ini menunjukkan betapa adaptif dan hidupnya bahasa manusia.

Kita tidak hanya menggunakan bahasa yang diwariskan, tetapi juga menciptakan kata-kata baru, menggabungkan unsur-unsur dari berbagai bahasa, dan membentuk dialek-dialek baru yang unik. Bahasa adalah organisme hidup yang terus berevolusi, selaras dengan perjalanan manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, mari kita rayakan keajaiban bahasa, dengan segala kompleksitas dan dinamikanya. Mari kita hargai kemampuan berkomunikasi, berbagi ide, dan membangun hubungan melalui bahasa. Dan yang terpenting, mari kita terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan bahasa kita, agar mampu menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik.   

Perjalanan dari tangisan pertama hingga kemampuan berbicara menunjukkan betapa alami dan luar biasanya proses penguasaan bahasa dalam diri manusia. Kita lahir dengan potensi besar untuk menyerap bahasa apa pun, dan lingkungan sosial memperkaya potensi itu menjadi keterampilan yang nyata. Namun, meski kemampuan ini telah tertanam dalam diri kita, banyak orang dewasa yang merasa belajar bahasa itu sulit, bahkan mustahil. Mengapa bisa terjadi persepsi semacam itu?

Di Bab 3, kita akan membongkar mitos-mitos tentang kesulitan bahasa, dan menemukan kenyataan bahwa berbahasa jauh lebih mudah daripada yang selama ini kita kira.

Tuesday, December 2, 2025

BAHASA: KEAJAIBAN YANG TERLUPAKAN

 Dalam Label Playlist ini, Saya akan unggah sebagian bab dari buku kami


1. Tangisan Pertama: Lebih dari Sekadar Suara

 

Bayangkan momen magis ketika seorang bayi mungil lahir ke dunia. Ruangan yang sebelumnya penuh ketegangan tiba-tiba dipenuhi suara tangisan nyaring. Bukan kata-kata sambutan yang pertama kali terdengar, melainkan pekikan kuat yang menandakan sebuah awal baru.


Tangisan ini bukan sekadar suara tanpa makna, melainkan sebuah kode biologis yang membawa pesan mendalam. Bagi dokter dan perawat, tangisan bayi adalah simfoni kehidupan—tanda bahwa paru-parunya berfungsi dengan baik dan ia siap menghadapi dunia luar. Bagi orang tua, tangisan ini adalah teka-teki yang harus dipecahkan.

Mengapa bayi tidak lahir dengan tersenyum atau, setidaknya, diam saja? Mengapa tangisan begitu krusial dalam momen pertama kehidupan? Jawabannya terletak pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial.

Tangisan adalah bentuk komunikasi paling awal—sebuah proto-language, sistem komunikasi primitif yang sudah ada sebelum kata-kata pertama diucapkan. Bayi menangis bukan tanpa alasan; mereka melakukannya untuk menyampaikan rasa lapar, dingin, sakit, ketakutan, atau sekadar kebutuhan akan sentuhan dan kehangatan (Zeifman, 2001).

Setiap jenis tangisan memiliki pola berbeda tergantung pada kebutuhan bayi. Ibu yang terbiasa merawat bayinya sering kali dapat membedakan tangisan lapar dari tangisan karena ketidaknyamanan atau rasa sakit. Ini adalah bentuk komunikasi awal yang, meskipun sederhana, sangat efektif.

Jika kita melihat lebih dalam, tangisan bayi mencerminkan prinsip dasar fungsi bahasa: menyampaikan informasi dan mendapatkan respons. Bahkan sebelum bayi mampu berbicara, mereka sudah berkomunikasi dengan cara yang dapat dipahami lingkungan sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk berkomunikasi muncul jauh sebelum kemampuan berbahasa berkembang.

Seiring waktu, komunikasi bayi berkembang menjadi lebih kompleks. Dari tangisan, mereka mulai mengoceh, mengucapkan kata-kata pertama, hingga akhirnya membentuk kalimat terstruktur. Misalnya, bayi yang baru belajar berbicara mungkin akan mengatakan "Mama" untuk menarik perhatian ibunya. Pada tahap ini, bahasa mulai menggantikan tangisan sebagai alat komunikasi utama.

Bayi yang menangis karena lapar akan segera diberi susu oleh ibunya. Seiring waktu, mereka belajar bahwa menangis adalah cara efektif untuk memenuhi kebutuhan. Namun, ketika mereka mulai memahami dan menggunakan kata-kata, mereka tidak lagi perlu menangis setiap kali lapar—cukup mengatakan, "Mama, makan!"

Tangisan pertama bayi bukan hanya tanda kehidupan, tetapi juga bukti bahwa komunikasi adalah kebutuhan dasar manusia. Bahkan sebelum kita bisa berbicara, kita sudah memiliki mekanisme untuk terhubung dengan orang lain. Inilah alasan utama mengapa manusia berbahasa: untuk memba-ngun hubungan dan bertahan hidup.

Bagi sebagian orang, semua tangisan bayi mungkin terdengar sama. Namun, penelitian menunjukkan bahwa tangisan bayi memiliki variasi yang dapat diidentifikasi, mencerminkan kebutuhan dan kondisi fisiknya. Tangisan bernada tinggi dan melengking sering kali menunjukkan rasa sakit, sementara tangisan pendek dan berulang biasanya menjadi tanda rasa lapar. Sebaliknya, tangisan yang terdengar merengek menandakan ketidaknyamanan.

Tangisan bayi bukan sekadar respons refleksif, melainkan sebuah sistem komunikasi awal yang memiliki struktur dan makna. Setiap tangisan memiliki pola tertentu tergantung pada kebutuhannya. Misalnya, tangisan karena lapar cenderung lebih ritmis dan teratur, sedangkan tangisan akibat rasa sakit biasanya terdengar melengking dan tidak beraturan.

Pengasuh yang berpengalaman, terutama ibunya, sering kali mampu membedakan berbagai jenis tangisan bayi dan merespons dengan tepat. Kemampuan ini menunjukkan bahwa tangisan bayi memang mengandung informasi yang dapat diinterpretasi dengan akurat.

Penelitian lebih lanjut mengidentifikasi berbagai karak-teristik akustik dalam tangisan bayi yang berkorelasi dengan penyebabnya. Misalnya, tangisan bernada tinggi sering dikait-kan dengan rasa sakit, sedangkan tangisan ritmis dan berulang menunjukkan rasa lapar. Studi oleh Gustafson, Wood, dan Green (2000) mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa tangisan bayi bukan hanya ekspresi emosional, melainkan bentuk komunikasi kompleks dan terstruktur.

Komunikasi bayi tidak hanya terbatas pada tangisan. Seiring perkembangannya, mereka mulai menggunakan gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan suara vokal lain untuk menarik perhatian. Bayi menggerakkan tangan dan kaki dengan antusias saat tertarik pada sesuatu, melebarkan mata saat terkejut, atau mengerutkan kening saat merasa tidak nyaman. Mereka juga mulai mengeluarkan suara seperti "gu-gu" atau "ga-ga"—dikenal sebagai babbling—sebagai latihan awal dalam produksi suara (Murray & Trevarthen, 1985).

Menariknya, komunikasi bayi dengan orang dewasa sudah menyerupai percakapan jauh sebelum mereka bisa berbicara. Dalam konsep "protoconversation", bayi dan pengasuh sering terlibat dalam pertukaran ekspresi dan vokalisasi yang ritmis (Trevarthen, 1979).

Bayangkan seorang ibu yang mendekatkan wajahnya ke bayinya dan berkata dengan suara lembut, "Hai sayang, kamu lapar ya?" Jika bayinya merespons dengan gerakan mulut atau suara kecil, sang ibu menanggapi dengan kata-kata atau ekspresi wajah lebih banyak. Proses ini membentuk dasar komunikasi manusia: giliran berbicara, respons, dan keterli-batan emosional.

Fenomena ini terlihat juga di dunia dewasa. Bayangkan seseorang yang tidak menguasai bahasa asing di negeri orang. Dengan isyarat tangan, ekspresi wajah, dan nada suara, ia tetap berusaha menyampaikan maksudnya—mirip dengan cara bayi berkomunikasi sebelum berbicara. Bahkan di era digital, kita menggunakan emoji, GIF, atau nada suara dalam pesan suara untuk mengungkapkan emosi. Ini menunjukkan bahwa bahasa tidak semata soal kata-kata dan tata bahasa, melainkan sistem komunikasi kompleks yang berakar pada ekspresi manusia.

Dari tangisan pertama hingga interaksi sosial yang kaya, perjalanan bahasa manusia dimulai sejak detik pertama kehidupan. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa interaksi awal bayi dengan pengasuh berpengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan emosional mereka di masa depan. Bayi yang mendapatkan respons positif cenderung mengem-bangkan keterampilan komunikasi yang lebih baik serta ikatan emosional yang lebih kuat. Memahami pola komunikasi bayi bukan hanya penting untuk perkembangan bahasa, tetapi juga untuk kesehatan sosial dan emosional mereka.

Dari tangisan pertama hingga celotehan sederhana, kita melihat bagaimana manusia tergerak secara naluriah untuk berkomunikasi. Namun, perjalanan kita dalam menguasai bahasa tidak berhenti di situ. Seiring bertambahnya usia, kita tidak hanya menggunakan suara untuk mengekspresikan kebu-tuhan dasar, tetapi juga mulai menciptakan dunia melalui kata-kata: menyusun makna, membangun hubungan, dan memben-tuk realitas. Bab berikutnya akan mengajak Anda menyelami bagaimana manusia mengubah suara menjadi sistem makna yang membentuk dunia kita.

Ilusi Kemajuan: Menelanjangi Hubungan Toksik Kita dengan Energi dan Ekonomi Rapuh

 Musibah banjir yang melanda Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, baru-baru ini bukan sekadar bencana hidrometeorologi; peristiwa ini adalah sebuah "uji tekanan" yang menampar kesadaran kita akan kerapuhan sistem kehidupan yang kita bangun. Ketika air merendam kota, pasokan listrik terputus dan BBM menjadi langka, kita menyaksikan sebuah kelumpuhan massal.

 Masyarakat panik. Orang-orang seakan kehilangan kemampuan untuk bekerja dan berproduksi seketika itu juga. Antrian mengular panjang di SPBU, warga berdesakan demi seliter bensin, dan kegelapan total di malam hari membekukan aktivitas ekonomi. Realitas di lapangan ini menelanjangi sebuah fakta yang mengerikan: kita tidak memiliki ketahanan. Kebergantungan kita pada listrik dan BBM begitu absolut, sehingga tanpanya, kita kembali ke zaman batu dalam hitungan jam.

 Namun, tragedi yang lebih besar bukanlah banjir itu sendiri, melainkan paradoks di balik energi yang kita perebutkan dalam antrian panjang tersebut. Kita menggantungkan "nyawa" peradaban ini pada Sumber Daya Alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui, yang justru turut menyumbang pada kerusakan iklim pemicu banjir tersebut. Kita sadar sistem ini rapuh, namun anehnya, belum ada usaha yang benar-benar signifikan untuk menghentikan kecanduan ini.

 Mengapa kita seolah berjalan dalam tidur menuju jurang kehancuran? Jawabannya bukan sekadar keterbatasan teknologi, melainkan cengkeraman ekonomi dan ilusi kebijakan yang menyesatkan.

 

Ekonomi Semu dan Mitos Energi Murah

 Faktor utama yang membuat kita enggan berpaling adalah ilusi bahwa energi fosil itu "murah". Ini adalah kebohongan akuntansi terbesar. Harga bensin yang kita antrekan atau listrik yang kita pakai tampak terjangkau hanya karena biaya eksternalitasnya disembunyikan.

 Kita tidak membayar biaya kerusakan hutan, biaya pengobatan penyakit akibat polusi, atau kerugian ekonomi akibat banjir seperti di Medan ini dalam struk pembelian BBM kita. Jika prinsip polluter pays (pencemar membayar) diterapkan, energi fosil akan menjadi sangat mahal. Kita mempertahankan ekonomi semu ini demi kenyamanan sesaat, sembari menumpuk utang ekologis yang kini mulai ditagih oleh alam.

 

Inersia Infrastruktur: Terjebak Masa Lalu

 Lambannya transisi ini juga disebabkan oleh jebakan "biaya hangus" (sunk cost). Kita telah menginvestasikan triliunan untuk infrastruktur energi kotor—kilang minyak, pipa gas, dan PLTU raksasa.

 Para pelaku industri dan pembuat kebijakan enggan meninggalkan investasi ini. Terjadi fenomena path dependence, di mana keputusan hari ini dikunci oleh infrastruktur usang masa lalu. Akibatnya, inovasi terhambat bukan karena tidak layak, tapi karena status quo terlalu menguntungkan bagi segelintir elit, meskipun rakyat yang harus menanggung dampaknya saat bencana datang.

 

Paradoks Kendaraan Listrik: Solusi Kosmetik yang Membuka Luka Baru

 Ketika kritik memuncak, solusi yang ditawarkan sering kali dangkal, seperti "Kendaraan Listrik" (EV). Namun, ini pun menyimpan cacat logika. Jika kita mengisi daya mobil listrik dengan energi dari PLTU batu bara, kita hanya memindahkan polusi dari jalan raya ke cerobong asap pembangkit.

 Lebih parah lagi, EV membawa masalah eksploitasi baru. Baterainya bergantung pada nikel, yang penambangannya sering mengorbankan hutan hujan dan daerah resapan air—yang ironisnya, memperparah risiko banjir itu sendiri. Selain itu, baterai memiliki masa pakai terbatas. Tanpa infrastruktur daur ulang yang siap, kita sedang menabung "bom waktu" limbah beracun di masa depan. Kita hanya beralih dari pecandu minyak menjadi pecandu nikel.

 

Kegagalan Neoliberal: Mengutamakan Kendaraan Pribadi

 Akar dari lambannya pengurangan emisi di sektor transportasi adalah ideologi ekonomi liberal yang dianut negara. Transportasi diperlakukan sebagai komoditas bisnis, bukan hak publik.

 Pemerintah lebih tergiur mendukung industri otomotif pribadi karena perputaran uangnya cepat dan mendongkrak PDB. Penjualan jutaan kendaraan dianggap prestasi, padahal itu adalah kegagalan manajemen ruang. Sebaliknya, transportasi massal (Kereta, Bus) dianaktirikan karena dianggap membebani anggaran.

 Alih-alih investasi besar-besaran untuk transportasi publik yang efisien, negara justru membakar anggaran untuk subsidi BBM—subsidi yang justru menyuburkan kemacetan dan polusi. Ini adalah kebijakan kontradiktif: mensubsidi racun, membiarkan obat penawarnya (transportasi publik) mati suri.


 Simpulan: Pencurian Hak Masa Depan

 Pemandangan banjir di Medan dan antrian BBM adalah mikrokosmos dari masalah global kita. Pola konsumsi energi dan kebijakan ekonomi kita saat ini adalah bentuk *pencurian lintas generasi*. Kita menghabiskan "modal" bumi (SDA tak terbarukan) dan mewariskan "bunga" berupa bencana.

 Perubahan tidak akan terjadi hanya dengan menunggu banjir surut. Perubahan hanya akan terjadi jika kita berani merombak total paradigma ekonomi: dari yang berorientasi pada profit jangka pendek, menjadi ekonomi yang berorientasi pada ketahanan, keberlanjutan, dan kemaslahatan publik.

 

Tuesday, November 28, 2017

Dari Alih Kode ke Strategi Komunikasi: Bukti Dua Sistem Dalam Dwibahasa Dini


Pendahuluan
Capaian pemerolehan bahasa oleh anak bukanlah hasil dari sebuah proses acak tetapi dari sebuah proses sistematis. Semua ahli pemerolehan bahasa tidak ada yang meragukan kesistematisan proses pemerolehan bahasa oleh anak bahkan juga proses pemerolehan bahasa oleh orang dewasa dan, oleh karena ifulah, berbagai teori dalam pemerolehan bahasa dihasilkan. Yang tidak disepakati secara bersama adalah dasar-dasar yang diiadikan landasan turtuk menjelaskan kesistematisan tersebut.
Dalam kasus dwibahasa, baik dwibahasa serempak (simultaneous bilingualism) atau dwibahasa sebagai bahasa pertama (bilingualism as first language) maupm dwibahasa benrut (sequential bilingualism), salah satu fenomena yang sering mendapat perhatian adalah perrrasalahan alih kode (code switching). Fenomena alih kode saat ini dipandang sebagai hat yang biasa, alami, dan bermanfaat dalam keterampilan berbahasa, meskipun dahulu dipandang sebagai bulrti rendahnya keterampilan berbahasa, ketidakmampuan melakukan differensiasi pada bahasa yang digunakan, dan bahkan sebagai tanda penyimpangan dari nonna dwibahasa (Brice dan Andersot 1999 dan Reyes 1995 dalam Pert and Stow 2003).
Makalah ini akan memerikan beberapa temuan dari pengamatan awal (prelirninary observation) saya berkaitan dengan fenomena alih kode dalam anak dwibahasa dini yang dilakukan terhadap bahasa Inggris (Bing) Ridho (R) yang saat diobservasi berumur 3,? - 3,4 tahun. (R) adalah seofimg anak Indonesia yang dibesarkan dalam progiln dwibahasa nonnative porents sejak lahir oleh ayahnya ayng bersuku Jawa dan ibunya yang bersuku Mmdailing. Dalam program dwibahasa tersebut, ayahnya selalu berbahasa Inggris pada Ridho, ibunya sebagian besar berbahasa lndonesia, dan yang lainnya hampir selalu berbahasa lndonesia. Sebagian besar waktu ayahnya dihabiskan di luar rumah, sehingga lingkungan bahasa Indonesianyajauh lebih besar dari pada lingkungan bahasa tnggrisnya- Selain dengan ayahnya dan sebagian dengan ibunya, lingkungan Bing Ridho diperoleh dari vcd, kaset lagu, televisi, dan juga buku-buku cerita dalam Bing. Sampai saat ini Ridho belum masuk kelompok bermain dan masih hanya belajar di rumah.

Sekilas Isu Alih Kode Mutakhir
Alih kode didefinikan oleh Meisel (1995) dalam Galasso (1999) sebagai satu keterampilan khusus yang berkaitan dengan kornpetensi pragrnatik dwibahasa seperti kemampuan memilih bahasa sezuai lawan bicaranya, konteks, dan topik pembicaraan tanpa mengganggu batasan sintaktis yang ada. Definisi dalam ruang lingkup pragmatik tersebut diberikan untuk mengakomodasi ketidalonampuan penjelasan alih kode berdasarkan proyeksi fungsional (Spradlin et.al. 2003). Sementara itu, Spradlin et.al (2003) menggunakan fenomena alih kode sebagai alat analisis dominasi dalam penegertian preferensi bdhasa pada anak dwibahasa dini.
Fenomena atih kode juga digunakan sebagai bukti-bukti dalam pembahasan yang sudah cukup lama berkembang dalam kasus dwibahasa, yaitu permasalahan apakah anak dwibahasa dini mempruryai satu sistem atau dua sistem yang berbeda atau sering disebut dengan istilah Unitary System Hypothesis (USH) (Wapole 2000, Yip 20AD. Meskipun tidak dengan memberikan tanggapan secara rinci terhadap argumen-argumen yang diberikan oleh mereka yang mernbahas permasalahan satu sistem atau dua dalam anak dwibahasa dini, Macswan (2000) lebih berpendapat bahwa proses gramatikal baik dalam kasus ekabahasa  maupun dwibahasa harus dipandang dalam kerangka yang sama dan menawmkan sebuah struktur ruang (faculty) bahasa untuk dwibahasa di mana anak dwibahasa dini dipandang memiliki dua Ieksikon dengan sistem bahasa yang tunggal. Gagasan ini tebih dikenal dengan istilah Single System Hypothesis (SSH).
Semua penelitian tentang alih kode yang telah dilakukan tersebut, sebagaimana disebutkan pada awal makalah ini, tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa fenomena alih kode dalam anak dwibahasa dini adalah hasil dari sebuah proses yang sistematis. Tampak bahwa paling tidak terdapat empat permasalahan yang berkaitan dengan fakta alih kode pada anak dwibahasa dini. Keanpat permasalahan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu apakah alih kode lebih tepat diletakkan dalam penjelasan kompetensi pragnatik atau batasan gramatikal (grammatical constraints) dan apakah alih kode merupakan bukti satu atau dua sistem dalam anak dwibahasa dini.
Berkaitan dengan kesistematisau pemerolehan bahasa di atas, sejunlah data pemerolehan bahasa oleh Ridho yang telah diamati juga menguatkan keyakinan kesistematisan pada proses pemerolehan bahasa (Kusmanto 2003, Kusmanto dan Pr.rlungan in press). Dengan berasumsi pada kesistematisan tersebut, temuan dari pengamatan awal ini dapat digunakan untuk menilai pendapat-pendapat tentang satu atau dua sistern dalam kasus dwibahasa dini dari fenomena alih kode sebagaimana dipaparkan sebelumnya secara ringkas.

Perkembangan Alih Kode: Dari Satu ke Dua Sistem
Dari data yang diamati, penggunaan bahasa Indonesia (Bind) oleh (R) ketika berbicara dalam Bing hanya berkisar pada penlsipan kata. Apabila penggu;laan kata bukan dalarn bahasa matriksnya tidak berkaitan dengan kesistematisan yang dapat menjelaskan penggunaan kata tersebut, keadaan tersebut bukan alih kode tetapi hanya campur kode (code mixing). Itu terjadi karena anak hanya masih mengetahui satu kata sebagai referensinya dan anak akan segera beralih ke kata bahasa matriks jika input kata baru diberikan seperti dalam (1). Akan tetapi, pada masa awal pemerolehan, pemberian input dengan kata lain biasanya tidak dapat langsung diterima oleh anak seperti dalam (2). Dengan alasan adanya periode inilah saya mendukung pordapat perkembangan bertahap dari satu sistem ke dua sistem dalam anak dwibahasa dini.

(l )        R :       Daddy.. I want to go to the market with momrny to buy kelapa
O :       What do you want to buy?
C :       Mommy want to btry kelapa
O :       What is kelapa?
C :       Kelapa daddy
O:        Coconut?
C :       Coconut, yes. I lyant to buy coconut.
(R: Ridho and O:Observer; Ridho pada3,4 tahun)

(2)        O:        Please, don't play with a knife
            R:        No, not with a knife
O:        There you are. You are playrng with a knife.
R:        Not a knife, this pisau.
O:        Allright, don't play with that. [t's dangerous.
R:        dangerous? Yes?
(Ridho pada 2,5 tahun)

Salah satu alih kode tingkat leksikal yang diperlihatkan oleh (R) adalah penggunaan kata 'opung' yang selalu digunakan untuk mengacu pada 'kakek/nenek' Oari pitratr ibunya meskipun sedang berbicara dalam Bing. Oleh karena itu, penggunaan kata 'opung' bersifat sistematis karena konteks refer€,nsial budaya. Hal ini dapat itijelaskan karena ayatrnya sendiri menggunakan kata 'opung' untuk mengacu pada 'kakek/nenek' dari pihak istrinya. Alasan lain yang dapat digunakan adalah kemampuan (R) menggrmakan frasa 'old man' untuk mengacu pada orang lansia yang dia lihat dan tidak dia kenal. Pendapat perkembangan bertahap dari satu sistern ke dua sistem dapat didukung dari data ini ketika (R) juga melalui tahap overgeneralisasi kata 'opung' yang dia gunakan mengacu pada semua orang lansia.
Yang menarik adalah ketika kata 'opung' berada dalam konstnrksi posesif seperti dalam (3).

(3)        a. *house   opung
     ‘grandpa’s haouse’
      Rumah kakek
           
b. *car      opung
     ‘grandpa’s car’
     mobil kakek

c. *adik           pillow
    ‘little sister’s pillow’
                 Bantal adik

Pembentukan konstruksi posesif (3) hingga saat ini masih sering mengalami kesalahan. Padahal, (R) sudah dapat membuat konstruksi posesif Bing seperti konstruksi posesif (3) dan konstruksi posesif dengan posesif adjekttf my. Kesalahan konstruksi posesif yang dihasilkannya selalu disertai oleh kata'opung' di dalamnya. Fenomena ini sama dengan yang dilaporkan oleh Andonova (PK, 6 Januari 2004) pada kasus dwibahasa Bulgaria-Jerman. Ini juga sama dengan anak ekabahasa Peraucis yang menghasilkatr papa voiture (Nicoladis PC-6 Januari 2004) untuk konstruksi (4).

(4)        la      voiture de     papa
ART mobil   PREP ayah
           'mobil ayah'

Nicoladis (Komunikasi Personal-KP, 6 Januari 2004) menawarkan tiga kemungkinan penyebab kesalahan tersebut, (a) pengaruh konstruksi poss adj + nomina, (b) pengaruh lingkungan pemerolehan dari bahasa Inggrs yang sangat besar seperti daddy's car, (c) keacakan dalam menyustm urutan dua nomina. Tampaknya ketiga penjelasan tersebut tidak dapat digr.urakan untuk kesalahan (4). Karena kesalahan ini hanya muncul dengan kata 'opung', tampaknya ini sebuah misteri yang sampai saat ini belum dapat dijetaskan kecuali dengan istilah fosilisasi (fossilization). Akan tetapi, perkembangan pemerolehan konstmksi posesif dalam Bind dan Bing dapat diterangkan dengan menggunakan penjelasan markedness seperti ditawarkan oleh Pearson (KP, 5 Januari 2004), meskipun masih perlu diuji dengan bahasa-bahasa lainnya.
Begitu juga dalam kaitannya dengan fenomena Root Infinitive (RI), saya tidak dapat mengatakan bahwa fenomena R[ pada Bing (R) merupakan bentuk dominasi Bind. Akan tetapi, jika kita menggunakan pendapat Spradlin et.al. (2003) kita dapat beranggapan bahwa fenomena RI dalam Bing (R) merupakan benhrk yang didominasi oleh Bing. Dalmr kasus (R), perrnasalahan RI yang ada dalam Bing tidak dapat ditandingkan dengan eind. Akan tetapi, campur kode dengan sintaksis bahasa matriks justru menguatkan dugaan penguasaan dua sistem sejak dini seperti dalam (5) (Kusmanto 2003).

(5)        Nanti pohonnyadi-chop down sama daddy
Mosquito-nya di-slap aja ya
(Ridho, 2,9 tahun dalam Bind)

Strategi Komunikasi: Bukti Baru Dua Sistem?
Sfiategi komwrikasi (SK) sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa kedua. Dalam kasus dwibahasa, SK sering hanya membicarakan bagaimana strategi komunikasi digunakan unnrk mernbentuk anak dwibahasa. Dengan kata lain, permasalahan tentang SK selama ini hanya berkaitan dengan eksposur. SK yang terjadi dalam kasus dwibahasa ternyata juga menarik untuk diamati.
SK dalam makalah ini lebih mengacu pada istilah yang digunakan dalam pemerolehan bahasa kedua untuk merujuk pada strategi yang digunakan oleh penutur ketika tidak mendapat akses terhadap bahasa sumber yang diperlukan unhrk menyampaikan makna (Ellis l9S5). SK perttrna yang digrmakan oleh (R) adalah campur kode dan alih kode seperti dalam (1) - (5). Setelah pemerolehan kedua bahasa berkembang rnenjadi dua sistsm, apakah alih kode (R) berubah menjadi sebuah sfrategi baru seiring menguatnya arah dua sistemnya.
Data awal perkembangan Bing (R) menunjukkan bahwa SK dengan alih kode berubah menjadi SK dengan bahasa sumber sendiri melalui cara penjelasan seperti dalam (6).

(6)        O :       Go to the kitchen, take a cloth, and clean your mouth
C :       Only clean with the /Ietji:f/ daddy
O :       fletji:f/?
C :       yes, with daddy fletji:f/
O :       my /letji:ffl what's that?
C :       This daddy. The cloth fromthepocket
Like this (memperagakan cara mengambilnya)
O:        Handkerchief
C :       (Tersenyum) yes, only clean with daddy handkerchief
O :       Okay. What you have to say?
C :       Daddy, would you please give the handkerchie{ pleasssseee?

Berbeda dari tahap sebelumnya, di sini (R) tidak begitu saja manggunakan SK alih kode dengan mengatakan 'sapu tangan'. Ini menunjukkan bahwa kesadaran falrasa (language awareness) sebagai wujud dari dua sistem yang terbentuk mempengaruhi SK yang digunakan oleh penutur. Penutur tetap bergantung pada bahasa sumber, meskipun penutur tahu bahwa Iawan bicaranya mengetahui juga bahasa target alih kodenya seperti dalam (7).

(7)        C :       When I go to the airport,...
O :       When I went to the airport.. okay, go on.
C :       Wren I went to the airport, I show you flre airplane
Daddy!l That the airplane. But the airplane has no /letjOr/
O :       The airplane has no what?
C :       Has no /letjOr/ daddy
O :       What is fletjOr/? [ don't know what you mean.
C :       The airplane has wing, we jump from the wing of the airplane
But Mas Ridho can not jump very high
So Mas Ridho call daddy.. Daddy!! Hold mas Ridho
The airplane has no lletjlrl
O :       lletj0rt? What's that? t still cant understand what you msan.
The airplane has wings
C :       The airplane has wings
O :       We go from the window to the wing?
C :       No, daddy. We jump onthe wing.
There is no /Ietj0r/
O :       I am sorr],. I don't undersatnd what you mean by lletj1rl
C :       This daddy.. tanesfl (diucapkan dengan pelan dan tersenyum-senyum)
O :       ooo.. ladder
C :       Yes daddy. The airplane has no ladder.
O :       You mean the airplane has no stairs?
C :       Not ladder? The name is stair?
If ladder is like in the opung house, yes?

Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa pemerolehan bahasa anak dwibahasa memperlihatkan perkembangan secara bertahap dari satu ke dua sistem. Penggunaan campur kode dan alih kode tidak semata-mata merupakan jalan pintas dalarn berkomunikasi, tetapimerupakan bagian sistematis dari proses pembentukan dua sistem bahasa yang sedang dihadapinya. Penggunaan secara maksimal bahasa sumber unttrk menyampaikan sebuah makna yang ingin disampaikan merupakan sebuah indikator adanya proses pembentukan dua sistem pada anak dwibahasa.

Ucapan Terima Kasih
Terima kasih atas sejumlah masukan berharga melalui Komunikasi Personal Email kepada Jeff Macswan (Arizona State Univeristy), Barbara Zurer Pearson (University of Massachusetts), Elora Nicoladis (University of Alberta), dan Elena Andanova terhidap pertannyaan saya tentang pemerolehan konstruksi posesif anak dwibahasa di forum Info-CHILDES.

Rujukan
Cheng, Karen Kow Yip. 2003. Code-switching for a purpose: focus on pre-school Malaysian children. Multilingua 22,59 -77
Ellis, Rod. 1985. understanding second languoge ocquisition cambridge: CUP
Galasso, Joseph. 199,9. The acquisition of functional categories. New York: IULC press
Graney, Sharon. 1997. Were does speech lit it? Spohen Englkh in a bilingual context.
Gallaudet University: the Laurent Crerc National Deaf Education Center.
Kusmanto, Joko. 2003. Perkembangan sintoksis bahasa Inggrk anak dalam progrorn dwibahasa non-notive poTentt (studi hasus Mahammad Rasyirl Ridho).Makalahdisajikan pada Serninar Pertemuan Linguistik UTARA 2,7-B Juli 2003, Medan.
Kusmanto, Joko & Anni Holila Pulungan. 2003. ‘The acquisition of English negation .no, and 'not': Evidences from an lndonesian child in non.native parent bilinguat program. Journal K@la, Vol 5. No.1. (Ak;reditasi B),. Universitas Kriiten Petra, Surabaya
MacSwan, J. 20A0. The architecture of flre bilingual language faculty: evidence from intrascntential code-switching. Bilingualism: Innguage and CognitionS (l):37 – 54
Muysken, Pieter. 2000. Bilingual speech: typorow of code-mixing. cambridge: cup Pert, Sean dan Carol Stow. 2003. Identi{ying diwrdu within code-switched language samples: the chollmge for speech and language therapkts assessing longuagi skils in bilingual children. Poster disajikan pada Child Language Seminar 2003, University of Newcastle, UK.
Spradlin, Kenton Todd, Juana Liceras, dan Raquel Fernandes. 2003. Functional-lexical codemixing patterns as evidence for language dominance in young bilingual children: a minimalist approach. Dalam Juana M. Liceras, et.al. (eds.). froceiding of the Generative Approach ta Second language Acquisition (GASLA 2002). Somerville, MA: Cascadilla Proceedings Project Wapole, Colleen. 2000. The bilingual child: one system or two? Dalam e. V. Ctart< 1eO.;Proceeding of the 3d' Annual Child Language Research Forum30. Stanford, CaL: Center for the Study of Language and Information.

Yip, Virginia.2N2. Early sintuctie development in Cantanese * English bilinguat children. Makalah pada the International Symposium on Comtemporary finguistics, lg * 2l Oktober 2002. Foreign Studies Universiff, Beijing.