ALUR PERUMUSAN CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN
DENGAN
METODE DUAL HELIX©
Oleh Joko Kusmanto
1. Latar Belakang Metode
Dual Helix©
Selama
lebih dari dua dekade, Outcome-Based Education (OBE) telah menjadi paradigma
utama dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi. Pendekatan ini berhasil
menggeser orientasi pembelajaran dari teaching-centered menuju learning-centered
dengan menempatkan capaian pembelajaran (learning outcomes) sebagai
pusat desain kurikulum (Caspersen, 2017). Namun demikian, berbagai penelitian
menunjukkan bahwa implementasi OBE, khususnya pada tahap perumusan Capaian
Pembelajaran Lulusan (CPL), masih menghadapi sejumlah persoalan metodologis
yang belum sepenuhnya teratasi.
Beberapa
kritik utama terhadap praktik perumusan CPL dalam OBE dapat dirangkum pada
Tabel berikut.
|
Kritik terhadap OBE |
Temuan dalam Literatur |
Respon Metode Dual Helix© |
|
Belum
berbasis bukti (evidence-based). Rumusan CPL umumnya disusun melalui expert
judgement, benchmarking, atau lokakarya tanpa mekanisme derivasi yang
eksplisit dari praktik profesional. |
Prøitz
(2010); Hussey & Smith (2008) |
Job
Task Inventory menjadikan Job Task dunia kerja sebagai unit evidensi utama
sehingga seluruh proses derivasi dimulai dari fakta empiris. |
|
Logical
leap dan rendahnya traceability. Hubungan antara dunia kerja, capability,
pengetahuan, dan CPL tidak dapat ditelusuri secara sistematis. |
Hussey
& Smith (2008); Caspersen (2017) |
Dual
Helix© membangun Capability Framework dan Knowledge Framework sebelum CPL
dirumuskan sehingga setiap komponen CPL memiliki asal-usul metodologis yang
jelas. |
|
Berorientasi
pada kepatuhan administratif. Learning outcomes sering menjadi instrumen
akreditasi dan tata kelola daripada representasi autentik kompetensi lulusan. |
Hussey
& Smith (2002, 2008); Caspersen (2017) |
CPL
dibangun melalui evidence-based curriculum derivation, bukan sekadar memenuhi
format administrasi. |
|
Mengaburkan
identitas disiplin (disciplinary identity). Rumusan CPL yang generik kurang
merefleksikan karakteristik disiplin ilmu. |
Caspersen
et al. (2014) |
Core–Enabling
Capability Analysis membangun orientasi disiplin sehingga identitas program
studi berasal dari struktur capability, bukan hanya dari konteks rumusan CPL. |
|
Reduksionistik
dan terlalu berorientasi pada outcome yang telah ditentukan sebelumnya. |
Bagnall
(1994); Hussey & Smith (2002, 2008) |
Capability
dan pengetahuan dikonstruksi dari kompleksitas praktik profesional sebelum
disintesis menjadi CPL. |
Berangkat
dari berbagai kritik tersebut, dapat diidentifikasi adanya kesenjangan
metodologis (methodological gap) dalam implementasi OBE. Hingga saat ini belum
tersedia suatu metode yang secara eksplisit menjelaskan asal-usul setiap
komponen penyusun CPL, yaitu behavior (verb), knowledge domain (noun), dan academic
context, serta bagaimana ketiga komponen tersebut diturunkan secara sistematis
dari evidensi dunia kerja.
Untuk
menjembatani kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan Metode Dual
Helix©, yaitu suatu pendekatan evidence-based curriculum derivation yang
membangun CPL melalui dua konstruksi yang saling berkaitan. Jalur pertama, Capability
Construction, menghasilkan Capability Framework, sedangkan jalur kedua, Knowledge
Construction, menghasilkan Knowledge Framework (Bahan Kajian). Kedua framework
tersebut kemudian disintesiskan bersama Academic Context sehingga menghasilkan
rumusan CPL yang memiliki keterlacakan metodologis secara utuh.
2. Kontribusi Konseptual
(Novelty) Metode Dual Helix©
Metode
Dual Helix© menawarkan beberapa kontribusi konseptual yang membedakannya dari
pendekatan OBE konvensional.
- Evidence-Based
Curriculum Derivation
Proses perumusan CPL dimulai dari Job Task Inventory sebagai evidensi empiris dunia kerja, bukan dari expert judgement semata. - Dual
Framework Construction
Sebelum CPL dirumuskan, dibangun terlebih dahulu dua framework yang berbeda namun saling terkait, yaitu Capability Framework dan Knowledge Framework. - Methodological
Traceability
Setiap komponen penyusun CPL memiliki asal-usul metodologis yang eksplisit dan dapat ditelusuri kembali hingga Job Task sebagai sumber evidensi. - Capability–Knowledge
Synthesis
Rumusan CPL dipandang sebagai hasil sintesis tiga komponen, yaitu:
Behavior (Verb) ← Capability
Framework
Knowledge Domain (Noun) ← Knowledge
Framework (Bahan Kajian)
Academic Context ← PEO, Profil
Lulusan, dan karakter disiplin ilmu
- Disciplinary
Identity melalui Core–Enabling Capability
Dual Helix© menunjukkan bahwa identitas suatu program studi tidak dibedakan oleh Profil Lulusan, melainkan oleh struktur Core Capability dan Enabling Capability yang terbentuk selama Capability Construction. Dengan demikian, dua program studi dapat memiliki Profil Lulusan yang sama, tetapi menghasilkan CPL yang berbeda karena memiliki orientasi capability yang berbeda. - Knowledge
Construction sebagai Jalur Independen
Bahan Kajian tidak diturunkan dari rumusan CPL maupun langsung dari Job Task, tetapi dikonstruksi dari Professional Practice Entity (PPE) yang telah terorganisasi dalam Capability Framework, sehingga hubungan antara kemampuan profesional dan domain pengetahuan menjadi lebih logis dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
3. Rujukan
Adam,
S. (2004). Using learning outcomes: A consideration of the nature, role,
application and implications for European education of employing learning
outcomes. Bologna Seminar.
Bagnall,
R. (1994). Performance indicators and outcomes as measures of educational
quality: A cautionary critique. International Journal of Lifelong Education,
13(1), 19–32.
Caspersen,
J. (2017). Higher education learning outcomes—Transforming higher education? European
Journal of Education, 52(1), 3–7.
Caspersen,
J., Frølich, N., Karlsen, H., & Aamodt, P. O. (2014). Learning outcomes
across disciplines and professions: Measurement and interpretation. Quality
in Higher Education, 20(2), 195–215.
Hussey,
T., & Smith, P. (2002). The trouble with learning outcomes. Active
Learning in Higher Education, 3(3), 220–233.
Hussey,
T., & Smith, P. (2008). Learning outcomes: A conceptual analysis. Teaching
in Higher Education, 13(1), 107–115.
Prøitz,
T. S. (2010). Learning outcomes: What are they? Who defines them? When and
where are they defined? Educational Assessment, Evaluation and
Accountability, 22(2), 119–137.
4. ALUR PERUMUSAN CPL
DENGAN METODE DUAL HELIX©
1. Graduate Profile
Proses
diawali dengan menetapkan Graduate Profile sebagai representasi peran
profesional yang diharapkan dapat dijalankan oleh lulusan. Profil lulusan
dirumuskan berdasarkan Program Educational Outcomes (PEO), kebutuhan dunia
kerja, masukan pemangku kepentingan, serta karakter disiplin ilmu program
studi. Profil lulusan inilah yang menjadi titik awal seluruh proses
pengembangan kurikulum.
2. Job Task Inventory
(JTI)
Setelah
profil lulusan ditetapkan, dilakukan Job Task Inventory (JTI) untuk
mengidentifikasi, memverifikasi, dan menginventarisasi seluruh Job Task secara
verbatim dari berbagai sumber empiris dunia kerja, seperti deskripsi pekerjaan
industri, standar profesi, tracer study, benchmarking, observasi praktik kerja,
dan masukan pemangku kepentingan. Seluruh Job Task dipertahankan sebagai unit
evidensi tanpa melalui proses clustering maupun reduksi sehingga keterlacakan
terhadap sumber empiris tetap terjaga dan menjadi dasar analisis berikutnya.
3. Dual Helix
Construction©
Berdasarkan
Job Task yang telah terinventarisasi, proses selanjutnya memasuki Dual Helix
Construction©, yaitu dua jalur konstruksi yang saling berkaitan namun memiliki
tujuan berbeda. Jalur pertama membangun Capability Framework, sedangkan jalur
kedua membangun Knowledge Framework. Kedua jalur tidak berjalan secara paralel
sejak awal. Knowledge Construction dimulai setelah Capability Framework
terbentuk, karena framework tersebut berfungsi sebagai organizing framework
dalam mengorganisasi Professional Practice Entity (PPE) yang akan dikonstruksi
menjadi pengetahuan.
Helix 1 – Capability Construction
Setiap
Job Task dianalisis melalui identifikasi Main Verb dan Professional Practice
Entity (PPE) yang kemudian diabstraksikan menjadi Professional Capability.
Capability tersebut selanjutnya dianalisis melalui lima tahapan, yaitu Professional
Capability Identification, Normative Capability Matching, Cross-Profile
Validation, Professional Capability Complexity Analysis, dan Core–Enabling
Capability Analysis, sehingga dihasilkan Capability Framework yang terdiri atas
Normative Capability, Transferable Professional Capability, Core Capability,
dan Enabling Capability.
Helix 2 – Knowledge Construction
Setelah
Capability Framework terbentuk, Professional Practice Entity (PPE) yang telah
terorganisasi digunakan sebagai pembawa utama (primary carrier) pengetahuan.
PPE kemudian dikelompokkan melalui Knowledge Affinity Clustering, disatukan
melalui Knowledge Theme Construction apabila beberapa klaster masih memiliki
kedekatan konseptual, diintegrasikan melalui Knowledge Integration, dan
akhirnya diabstraksikan menjadi Knowledge Framework berupa Bahan Kajian (BK)
yang merepresentasikan domain pengetahuan setiap Profil Lulusan.
4. Capability–Knowledge
Synthesis
Setelah
kedua framework selesai dibangun, dilakukan proses Capability–Knowledge
Synthesis untuk menyatukan Capability Framework, Knowledge Framework (Bahan
Kajian), dan Academic Context. Pada tahap ini, Capability Framework menyediakan
komponen behavior (verb), Knowledge Framework menyediakan knowledge domain
(noun), sedangkan Academic Context memberikan identitas disiplin, orientasi
Program Educational Outcomes (PEO), serta ruang praktik profesional tempat
capability tersebut diterapkan.
5. Capaian Pembelajaran
Lulusan (CPL)
Hasil
akhir proses adalah rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang disusun
berdasarkan anatomi:
Behavior
(Verb) + Knowledge Domain (Bahan Kajian) + Academic Context
Melalui
mekanisme Dual Helix©, setiap komponen dalam rumusan CPL memiliki asal-usul
metodologis yang jelas dan dapat ditelusuri kembali hingga Job Task yang
menjadi sumber evidensinya. Dengan demikian, rumusan CPL yang dihasilkan
bersifat berbasis bukti, sistematis, terlacak, dan berorientasi keilmuan,
sekaligus mencerminkan identitas akademik program studi dan kebutuhan dunia
kerja secara terpadu.
No comments:
Post a Comment