Sunday, September 3, 2017

Apa yang Dimaksudkan atau Apa yang Dikomunikasikan (Bagian III, selesai)

Ketika orang berkomunikasi, tentu saja terdapat sesuatu yang ingin disampaikan oleh penutur kepada pendengarnya. Untuk menyampaikan sesuatu itu, orang tersebut dapat menggunakan berbagai cara dan salah satu cara yang paling penting, dominan, dan berpengaruh dalam peradaban manusia adalah dengan menggunakan bahasa verbal. Ini mengimplikasikan bahwa sesungguhnya “arti kalimat” yang dikatakan oleh seorang penutur dalam satu komunikasi tidak dapat dipisahkan dari sesuatu yang ingin dan sedang dikomunikasikannya. Akan tetapi, Grice (1975) menjelaskan bahwa hakikat apa yang dikatakan oleh seorang penutur itu berbeda dari hakikat apa yang ingin dan sedang dikomunikasikan. Namun, itu bukan berarti bahwa apa yang sedang dikomunikasikan oleh seorang penutur dalam satu komunikasi tidak dapat berwujud sama dengan apa yang dikatakannya. Jika itu yang terjadi, maka apa yang dikomunikasikan berupa “implikatur konvensional” dan jika bukan itu yang terjadi, maka apa yang dikomunikasikan berupa “implikatur percakapan” (Grice, 1975). Di sini tampak bahwa hubungan antara “apa yang dikatakan” dengan “apa yang dimaksudkan” didasarkan pada bagaimana maksud penutur dikomunikasikan dengan tuturannya. Oleh karena itu, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa, menurut Grice (1975), “apa yang dikatakan” dan “apa yang dimaksudkan” oleh seorang penutur dengan tuturannya adalah dua hal yang berbeda tetapi berada dalam satu paket yang tidak tidak dapat dipisahkan.
Konsep teoretis dalam istilah “apa yang dimaksudkan” ini beriringan dengan istilah “maksud penutur” (speaker’s meaning) atau dalam istilah Grice (1969) “utterer’s meaning”. “Maksud penutur” adalah ‘sesuatu yang mengacu pada intensi atau “apa yang dimaksudkan” atau “apa yang dikomunikasikan” oleh seorang penutur dengan tuturannya’. Grice (1957) memberikan ilustrasi bahwa pada hakikatnya sebuah ekspresi lingual dituturkan oleh seorang penutur karena ia memiliki satu intensi atau maksud yang ingin dikomunikasikan pada pendengar. Ini jelas menunjukkan bahwa tuturan tidak datang dengan sendirinya melainkan dituturkan untuk mengemban sebuah maksud. Dengan demikian, arti yang dimiliki setiap satuan lingual penyusunnya dan arti keseluruhan berdasarkan penggabungannya – timeless meaning dan applied timeless meaning menurut Grice (1969) – tidak dapat dilepaskan begitu saja dari maksud penuturnya. Dalam hal ini, Grice (1969:150) menyatakan bahwa “the notion of utterer's occasion-meaning is explicable, in a certain way, in terms of the notion of utterer's intention”.
Akan tetapi, intensi bukanlah segala-galanya dalam pengertian mengabaikan ekspresi lingual yang digunakan untuk menyampaikan apa yang ingin dikomunikasikan oleh penutur. Grice (1957) menyatakan bahwa agar apa yang ingin dikomunikasikan oleh penutur dapat ditangkap oleh pendengarnya, maka apa yang dikatakan harus diyakini oleh penutur sebagai ekspresi lingual yang dapat menyampaikan maksudnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penutur juga memiliki kompetensi dalam mengekspolarasi ekspresi lingual yang dapat membuat pendengar memahami maksud yang disampaikannya. Kompetensi itu secara logis mengimplikasikan adanya juga kompetensi pendengar untuk memahami maksud penutur dengan tuturannya karena pendengar pada kesempatan yang berbeda juga memiliki peran sebagai penutur. Adanya kompetensi ini tidak diperdebatkan meskipun memiliki penjelasan deskriptif dan eksplanatori yang beragam.
Berdasarkan pembahasan tersebut, tampak jelas bahwa pembahasan konsep teoretis “apa yang dimaksudkan” tidak dapat dilepaskan dari konsep teoretis “apa yang dikatakan”. Di dalam pembahasan sebelumnya, semantisi dan pragmatisi tidak berbeda pendapat berkaitan dengan konsep teoretis “arti kalimat” sebagai ‘arti literal kalimat yang benar-benar bebas konteks’ yang dalam teori Kaplan dipadankan dengan konsep dalam istilah “karakter”. Begitu juga, mereka tidak berbeda pendapat bahwa yang mengemban syarat kebenaran satu ekspresi lingual berada pada tataran “apa yang dikatakan”. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai konsep teoretis “apa yang dikatakan”. Terdapat lima konsep teoretis berbeda berkaitan dengan istilah apa yang dikatakan, yaitu (i) “apa yang dikatakan” yang dipadankan dengan konsep “karakter” Kaplan, (ii) “apa yang dikatakanMIN”, (iii) “apa yang dikatakanMIN-P” (iv) “apa yang dikatakanPRAG”, (v) “apa yang dikatakan menurut semantisi literal”. Jawaban deskriptif konsep teoretis “apa yang dikatakan menurut semantisi literal” sebenarnya sama dengan konsep teoretis ‘apa yang dikatakanPRAG’. Perbedaan di antara keduanya terletak pada jawaban eksplanatorinya, yaitu bahwa masukan konteks tidak bersifat otonom – bebas dari kendala linguistik – melainkan  disaring oleh satu representasi struktur semantik yang mendasar sesuai dengan prinsip-prinsip semantik kompositional (Stern, 2006; 2009). Dengan demikian, secara keseluruhan semantisi minimal, semantisi literal, dan pragmatisi kontekstual pada hakikatnya berbeda pendapat mengenai pengemban syarat kebenaran satu ekspresi lingual.
Konsep teoretis “apa yang dikatakan” secara langsung mempengaruhi konsep teoretis istilah “apa yang dimaksudkan” atau “apa yang dikomunikasikan”. Semantisi minimal secara tegas memisahkan antara “apa yang dikatakan” dengan “apa yang dimaksudkan” sebagai perbedaan antara objek kajian semantik dengan objek kajian pragmatik (Borg, 2001; 2004; 2007). Arah objek kajian semantik hanya sampai pada “apa yang dikatakanMIN”. Bagi semantisi minimal, “apa yang dikatakanMIN” merupakan ‘arti literal kalimat sebagai arti kalimat-tipe atau isi semantik (semantic content) dan merupakan pengemban syarat kebenaran’. Semua arti yang muncul dari berbagai proses setelah arti yang terdapat pada “apa yang dikatakanMIN” merupakan isi tindak tutur (speech act content) dan merupakan objek kajian pragmatik, bukan ranah kajian semantik lagi.
Berdasarkan penjelasan di atas, apa yang dimaksudkan oleh penutur dengan tuturannya, menurut semantisi minimal, merupakan wilayah kajian pragmatik dan memposisikan konsep teoretis “apa yang dikatakanMIN” sebagai masukan (input) terhadap pemrosesan isi tindak tuturnya sebagai kajian pragmatik. Dalam teori ini, pemrosesan semantik ditempatkan sebagai satu modul tersendiri yang bersifat ranah khas (domain spesific) dan pemrosesan pragmatik sebagai kompetensi komunikatif dalam modul lain yang secara keseluruhan beroperasi sebagai proses kognitif sehingga dapat menghasilkan dan memahami meaning penggunaan bahasa. Namun, semantisi minimal sendiri mengakui bahwa “it is extremely difficult to retrace our steps to discover the purely semantic contribution to the communicatice act” (Borg, 2004:261). Pemrosesan yang diajukan dalam SM merupakan sebuah pemrosesan dua tahap yang pada hakikatnya banyak menyerupai pemrosesan implikatur Grice yang secara kognitif banyak mendapat kritikan karena secara eksplanatori lemah meskipun secara deskriptif dapat diterima.
Sejak Grice (1975) memisahkan konsep teoretis “apa yang dikatakan” dan “apa yang dimaksudkan”, ada kecenderungan untuk membedakan antara “apa yang dikatakan” dengan “apa yang dimaksudkan” sebagai dua hal terpisah yang berdiri sendiri, yaitu di satu sisi ada ekspresi lingual yang dikatakan dan di sisi lain ada maksud penutur dengan ekspresi lingual yang dituturkannya. Pendapat seperti itu berkembang pada tahun 1970-an, era awal konsep teoretis tersebut muncul, dan bahkan Searle (1978:209) mengatakan bahwa “there are some  variations on this received opinion which contain fairly serious mistakes”. Salah satu di antaranya adalah dengan menyamakan istilah “apa yang dikatakan” dengan istilah “kalimat” dan istilah “apa yang dimaksudkan” dengan istilah “tuturan”. Kasus yang berbeda tetapi sebenarnya sama adalah (i) dengan menyamakan istilah “apa yang dikatakan” dengan istilah “tipe” dan istilah “apa yang dimaksudkan” dengan istilah “token” dan (ii) dengan menyamakan istilah “apa yang dikatakan” dengan istilah “arti kalimat” dan istilah “apa yang dimaksudkan” dengan istilah “maksud tuturan.
Apa yang sesungguhnya terjadi dalam hal ini? Yang perlu dicermati sebagai inti permasalahan ini adalah bahwa konsep teoretis “apa yang dikatakan” dan “apa yang dimaksudkan” telah menjadi perhatian dua paham filsafat bahasa yang berbeda, yaitu antara objektivisme dengan pragmatisme. Selanjutnya, banyak penjelasan yang mencoba mengakomodasi kedua faham filsafat bahasa tersebut ke dalam istilah “apa yang dikatakan” dan “apa yang dimaksudkan” sebagai dua jenis meaning yang berbeda. Tidak mengherankan jika kemudian istilah “apa yang dikatakan” dan “apa yang dimaksudkan” menjadi terpisah dan seolah-olah dua permasalahan meaning yang berdiri sendiri. Untuk memahami dan kemudian mendefinisikan konsep teoretis istilah apa yang dimaksudkan, pembedaan keduanya perlu dirujuk kembali pada penjelasan Grice (1975) secara kritis. Penjelasan Grice tersebut harus dijadikan sebagai fondasi dalam membahas dan meredefinisikan pengertian Grice tentang apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan sebagaimana tampak dalam Gambar 4.6..
Telah dijelaskan bahwa berkomunikasi secara verbal artinya menyampai-kan sesuatu (intensi atau maksud) melalui bahasa. Perlu digarisbawahi bahwa Grice (1957, 1975) berbicara tentang bahasa dalam komunikasi yang berarti berbicara tentang tuturan yang juga berarti penggunaan bahasa dalam konteks. Dengan demikian, tampak ada tiga hal mendasar yang harus diperhatikan, yaitu (i) maksud penutur, (ii) tuturan, dan (iii) konteks. Jika tuturan adalah meaningNN, maka meaningNN tidak dapat disajikan seperti dalam Gambar 4.6. yang di dalamnya memiliki dua jenis meaning, yaitu (i) “apa yang dikatakan” dan “apa yang diimplikasikan”. Pengertian seperti itu mengakibatkan suatu pengertian yang rekursif di mana terdapat pengertian “implikatur konvensional” yang dapat mengacu kembali pada pengertian apa yang dikatakan. Akan tetapi, “implikatur konvensional” juga dapat mengacu pada pengertian yang lain. Di samping itu, “apa yang dikatakan” di satu didefinisikan oleh Grice sebagai ‘arti konvensional kalimat’ tetapi di sisi lain sudah didefinisikan sebagai “meaningNN” yang berarti sudah berwujud “apa yang dikatakanPRAG. Hal ini menimbulkan satu kekaburan pada pengertian “apa yang dikatakan”.
Permasalahan tersebut dapat diatasi jika apa yang dimaksudkan sebagai meaningNN dipandang sebagai satu proses dalam satu kesatuan yang utuh. Meskipun “apa yang dimaksudkan” sebagai sebuah produk sepertinya merupakan sesuatu yang berada di titik bagian akhir, sesungguhnya “apa yang dimaksudkan” sebagai sebuah proses melingkupi keseluruhan proses yang terlibat di dalamnya. Untuk memahami hal tersebut, ada baiknya jika konsep teoretis istilah “apa yang dimaksudkan” dibedakan dari konsep teoretis istilah “apa yang diimplikasikan”. Yang pertama digunakan untuk mengacu pada proses secara keseluruhan dan yang kedua mengacu pada produk di dalamnya. Dengan demikian, konsep teoretis istilah “apa yang dimaksudkan” melingkupi di dalamnya konsep teoretis “apa yang dikatakan” dan “apa yang diimplikasikan” sebagai sebuah kontinum bukan sebagai sebuah pilihan. Sepintas konsep teoretisnya seperti pendapat Grice, tetapi sebenarnya berbeda secara signifikan sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 4.6.



Gambar 4.6. Konsep Teoretis Istilah Apa yang Dimaksudkan


Tampak dengan jelas bahwa konsep teoretis istilah “apa yang dimaksudkan” dalam Gambar 4.10. berbeda secara signifikan dari konsep teoretis Grice tentang apa yang dimaksudkan dalam Gambar 4.6. Tidak jelas apakah Grice menyamakan istilah meaningNN dengan “apa yang dimaksudkan” atau “apa yang diimplikasikan” atau bahkan menyamakan ketiga istilah meaningNN, “apa yang dimaksudkan”, dan  “apa yang diimplikasikan” sebagai istilah yang mengacu pada konsep teoretis yang sama. Jika “apa yang dikatakan” dan “apa yang diimplikasikan” adalah komponen “apa yang dimaksudkan”, maka terdapat dua masalah. Pertama, jika “apa yang dikatakan” adalah sama dengan “apa yang dimaksudkan” – ini jelas tidak mungkin, maka komponen “apa yang diimplikasikan” menjadi pilihan. Kedua, jika “apa yang diimplikasikan” adalah “apa yang dimaksudkan”, maka “apa yang diimplikasikan secara konvensional” akan kembali pada komponen “apa yang dikatakan”. Di dalam Gambar 4.10., perbedaan antara maksud konvensional dengan maksud percakapan merupakan perbedaan yang disebabkan perbedaan proses dalam sebuah kontinum. 

Daftar Acuan

Abbott, Barbara. 2010. Reference. Oxford: Oxford University Press.
Akmajian, Adrian; Richard A. Demers; Ann K. Farmer; Robert M. Harnish. 2001. Linguistics:An Introduction to Language and Communication. Edisi ke-5. Cambridge: The MIT Press
Ali Imron Al-Ma’ruf. 2009. “Kajian Stilistika Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari: Perspektif Kritik Holistik”. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Allott, N. & Textor, M. 2012. “Lexical pragmatic adjustment and ad hoc concepts”. International Review of Pragmatics,Vol. 4 No.2. hal. 185–208.
Almog, JosephPerry, John dan WettsteinHoward (Eds.). 1989. Themes from Kaplan. Oxford: Oxford University Press.
Austin, J. L. 1961/1996. “Performative utterances”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press. Hal. 120 – 129.
__________ 1962. How To Do Things With Words (The Willian James Lectures delivered at Harvard University in 1955). Oxford: ClaredonPress.
AyerA. J1936/1971Language, Truth, and LogicLondon: Penguin Books.
Ayoob, Emily. 2007. "Black & Davidson on Metaphor," Macalester Journal of Philosophy. Vol. 16: No. 1, hal. 56-64.
Badudu, J. S. dan Zain, Sutan Muhammad. 1996Kamus Umum Bahasa IndonesiaJakartaPustaka Sinar Harapan.
Barsalou, Laurence. 1983. “Ad hoc categories”. Memory & Cognition, Vol.11 No.3. Hal. 211 – 227.
________________. 2010. “Ad hoc categories”. Dalam P.C. Hogan (ed.). The Cambridge Encyclopedia of the Language Sciences. New York: Cambridge University Press. Hal. 86–87
Bezuidenhout, A. 2001. “Metaphor and what is said: a defense of a direct expression view of metaphor. Dalam P. A. French dan H. K. Wettstein (eds.), Midwest Studies in Philosophy (Vol.25): Figurative Language. Boston: Blackwell. Hal.156–186.
Black, M. 1979/1993. More on Metaphor. Dalam Ortony, A (ed.). Metaphor & Thought . Cambridge: Cambridge University Press.
Blackburn, Simon. 2005. Truth: A Guide for the Perplexed. London: Penguin.
Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Henry Holt
Boeckx, Cedric. 2006. Linguistic Minimalism: Origins, Concepts, Methods, and Aims. Oxford: Oxford University Press
Borg, Emma. 2001. “An expedition abroad: metaphor, thought, and reporting”. Dalam P. French dan H Wettstein (eds.). Studies in Philosophy XXV. Oxford: Blackwell. Hal. 227-248
___________  2004. Minimal Semantics. Oxford: Oxford University Press
___________ 2007. “Minimalism versus Contextualism in Semantics”. Dalam Gerhard Preyer dan Georg Peter (eds.). Context-Sensitivity and Semantic Minimalism: New Essays on Semantics and Pragmatics. Oxford: Oxford University Press
Bӧrjesson, Kristin. 2011. “The Notions of Literal and Non-literal Meaning in Semantics and Pragmatics”DisertasiDer Philologischen Fakultat, der Universitat Leipzig
Bowerman, M. 1976. “Semantic factors in the acquisition of rules for word use and sentence construction”. Dalam Morehead, D dan Morehead, A (Eds.). Directions In Normal and Deficient Language Development. Baltimore: University Park Press.
Brown, Harold I. 2007. Conceptual Systems. London: Routledge
Bühler, Karl. 1934/2011. Theory of Language: The representational function of language. Amsterdam: John Benjamins.
Camp, Elisabeth. 2005. “Josef Stern, Metaphor in Context”. NOUS. Vol. 39, No.4, hal. 715–731
_____________ 2006a. “Contextualism, metaphor, and what is said”. Mind & Language. Vol. 21, No. 3, hal. 280–309.
_____________ 2006b. “Metaphor in the mind: the cognition of metaphorPhilosophy Compass. Vol. 1, No.2, hal. 154–170
CampbellJ. K; O’Rourke, M; dan Shier, D. (eds.) 2002Meaning and Truth: Investigations in Philosophical SemanticsNew York: Seven Bridges Press
CappelanHerman dan Lepore, Ernie. 2005Insensitive Semantics: A Defence of Semantic Minimalism and Speech Act PluralismOxfordBlackwell
Carnap, Rudolf. 1942. Introduction to SemanticsMassachusette: Harvard University Press
______________ 1956. “A methodological character of theoretical concept”. Dalam Feigl, Herbert dan Scriven, Michael (eds.) The Foundations of Science and the Concepts of Psychology and Psychoanalysis.Minneapolis: University of Minnesota
Carston, Robyn. 1997. “Enrichment and Loosening: Complementary Processes in Deriving the Proposition Expressed?”. Dalam  Eckard Rolf (ed.). Pragmatik: Implikaturen und SprechateVS Verlag für Sozialwissenschaften, hal. 103- 127.
_____________ 2010a. “Lexical pragmaticsad hoc concepts and metaphorfrom a relevance theory perspective”Italian Journal of Linguistics. Vol, 22, No. 1, hal. 153 - 180.
_____________ 2010b. “Metaphor: Ad Hoc Concepts, Literal Meaning, and Mental Image”Proceedings of The Aristotelian Society. Vol. CX, Part. 3, hal. 297- 323.
_____________ 2012. “Metaphor and the literal/nonliteral distinction”. Dalam K Allan dan K.K. Jaszczolt(eds.). The Cambridge Handbook of Pragmatics. Cambridge : Cambridge University Press
Chapman, Siobhan. 2000. Philosophy for Linguists: An Introduction. London: Routledge
________________ 2008. Language and Empiricism: After the Vienna Circle. New York: Palgrave Macmillan
Chi, Michelene T. H. dan Roscoe, Rod D. 2002. “The Process and Challenges of Conceptual Change”. Dalam Limón, Margarita dan Mason, Lucia (eds). Reconsidering Conceptual Change: Issues in Theory and Practice. New York: Kluwer Academic Publisher
Chomsky, Noam. 1957. Syntactic Structures. Paris: Mouton.
______________ 1965. Aspects  of  the Theory of  Syntax. Cambridge: MIT Press
______________ 1995. Minimalist Program. Cambridge: MIT Press
Churchland, P. 1988. Matter and Consciousness. Cambridge: MIT Press/Bradford Books
Clausner, Timothy C. dan Croft, William. 1999. “Domains and image schemas”. Cognitive Linguistics. Vol. 10 No.1. hal. 1 – 31
Cohen, Ted. 2008. Thinking of Other: On the Talent for Metaphor. Princeton: Princeton University Press.
Cohen, L. J. 1979/1993. The Semantics of Metaphor. Dalam Ortony, A (ed.). Metaphor & Thought . Cambridge: Cambridge University Press.
Cook, John W. 1999. Wittgenstein, Empiricism, and Language. Oxford: Oxford University Press.
Cooper, David E. 2003. Meaning. Chesham: Acuman Publishing
Croft, William dan Cruse, Alan D. 2004. Cognitive Linguistics. Cambridge: CUP
Cruse, Alan. 2006. A Glossary of Semantics and Pragmatics. Edinburg: Edinburg University Press
Cummins, Robert. 2002. “Truth and meaning”. Dalam CampbellJ. K; O’Rourke, M; dan Shier, D(eds.)Meaning and Truth: Investigations in Philosophical SemanticsNew York: Seven Bridges Press.
Dafrizal dan Faridah Ibrahim. 2010. “Pembingkaian Metafora dan Isu Terorisme: Satu Interpretasi Konseptual”. CoverAge, Vol. 1, No. 1. hal. 33–45
Davidson, Donal. 1984. Inquiries into Truth and Interpretation. Oxford: Oxford University Press
______________ 1968/1984. “On saying that”. Dalam D. Davidson . Inquiries into Truth and Interpretation. Oxford: Oxford University Press
______________ 2005. Truth and Predication. Cambridge: The Belknap Press of Havard University Press
Davis, Wayne A. 2005. Nondescriptive Meaning and Reference: An Ideational Reference. Oxford: Claredon Press.
Dinneen, Francis P. 1995. General Linguistics. Washington: Georgetown University Press.
Dummett, Michael. 1976/2005. “What is a theory of meaning”. Dalam Evans, Gareth dan McDowell, John. (eds.). Truth and Meaning: Essays in Semantics. Oxford: Clarendon Press. Hal. 67-137.
Edi Subroto, D. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: UNS Press
______________ 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik (Buku 1, Pengantar Studi Semantik).Surakarta: Cakrawala Media
Evans, Gareth dan McDowell, John. 1976/2005. “Introduction”. Dalam  Gareth Evans dan John McDowell (eds.). Truth and Meaning: Essays in Semantics. Oxford: Clarendon Press.
Evans, Vyvyan dan Green, Melanie. 2006. Cognitive Linguistics: An Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press
Evans, Vyvyan. 2009. Lexical Concepts, Cognitive Models, and Meaning Construction. Oxford: Oxford University Press
_____________ 2011. “Language and cognition: the view from cognitive linguistics”. Dalam Vivian Cook dan Benedetta Basetti (eds.). Language and Bilingual Cognition. New York: Francis and Taylor. Hal. 69-108
______________ 2013. “Metaphor, lexical concepts and figurative meaning construction”. Cognitive Semiotics.http://www.vyvevans.net/#Papers
Endro Sutrisno. 2007. “Metafora dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA: Studi Kasus di tiga SMA di Surabaya”. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Pascasarajana, Universitas Sebelas Maret.
Fillmore, Charles J. 1982. “Frame semantics”. Dalam The Linguistic Society of Korea (ed.). Linguistics in the Morning Calm: Selected Papers from SICOL-1981. Seoul: Hanshin. Hal.111–37
Finke, R.A. 1989. Principles of Mental Imagery. Cambridge: MIT Press
Fetzer, Anita. 2011. “Pragmatics as a linguistic concept”. Dalam Bublitz, Wolfram dan Norrick, Neal R (eds).Foundations of PragmaticsBerlin: De Gruyter Mouton. Hal. 23 – 50.
Fodor, Jerry. A. 1983. The Modularity of Mind. Cambridge: MIT Press
Fogelin, R. J. 1988. Figuratively Speaking. New Haven: Yale University Press
Forrester, Stefan. 2010. “Theories of metaphor in seventeenth and eighteenth-century British philosophy”.Literature Compas. Vol. 7 No. 8. Hal. 610-625.
FregeGottlob1914/1979“Logic in Mathematics” (Terj. P. Long dan R. White)Dalam H. Hermes, F. Kambartel, dan F Kaulbach (eds.). Gottlob Frege. Posthumous Witings. Oxford: Basil Blackwell
____________ 1892/1996. “On sense and nominatum”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press. Hal. 186-198.
Garcia-CarpinteroManuel2006. “Recanati on the semantics/pragmatics distinction”. CRITICA. Vol. 38, No.112, hal .35-68
Gärdenfors, Peter. 1999. “Some tenets of Cognitive Semantics”. Dalam Allwood, Jens dan Gärdenfors, Peter (eds.). Cognitive Semantics: Meaning and Cognition. Amsterdam: John Benjamin. Hal. 19–36.
Geary, James. 2011. I Is an Other: The Secret Life of Metaphor and How It Shapes the Way We See the World. Ney York: Harper Collins.
Geeraerts, Dirk. 2006. “Introduction: a rough guide to Cognitive Linguistics”. Dalam Geeraerts, Dirk (ed.).Cognitive Linguistics: Basic Readings. Ney York: Mouton de Gruyter. Hal. 1–28
Gibbs, Raymond W. 1996“Why many concepts are metaphorical”. Cognition, 61. Hal. 309-319Elsevier.
_________________ 1994. The poetics of Mind: Figurative Thought, Language, and Understanding. Cambridge: Cambridge University Press
_________________ 2004Intentions in the Experience of Meaning. Cambridge: Cambridge University Press
_________________ (Ed.). 2008. The Cambridge Handbook of Metaphor and Thought. Cambridge: Cambridge University Press.
Gibbs, Raymond W dan Gerard J. Steen (eds.). 1997. Metaphor in Cognitive Linguistics. Amsterdam: John Benjamins.
Gibson, Martha I. 2004. From Naming to Saying. London: Blackwell
Giere, Ronald N. 2000. “Theories”. Dalam Newton-Smith, W. H (ed.) A  Companion  to the Philosophy of  Science. London: Blackwell
Glucksberg, Sam. 2001. Understanding Figurative Language: from Metaphors to Idioms. Oxford: Oxford University Press
Grice, H. P. 1957/1996. “Meaning”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press. Hal. 85 -91.
_________ 1969. “Utterer’s meaning and intention”. The Philosophical Review. Vol. 78, No. 2. Hal. 147-177
_________ 1975/1996. “Logic and conversation”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press. Hal. 156-167.
Goatly, Andrew. 1997. The Language of Metaphors. London: Routledge.
Haack, Susan. 1978. Philosophy of Logics. Cambridge: Cambridge University Press
Haiman, John. 1980. "Dictionaries and encyclopaedias". Lingua, 50. 377-88.
Haley, Michael Cabot. 1980. Concrete Abstraction: The Linguistic Universe of Metaphor. Dalam Ching, Marvin K. L, Haley, Michale C, dan Lunsford, Ronald F. Linguistic Perspective on Literature. London: Roudledge & Kegan Paul..
___________________ 1988. The Semeiosis of Poetic Metaphor. Bloomington: Indiana University Press.
Hanks, Patrick. 2006. “Metaphoricity is gradable”. Dalam Anatol Stefanowitsch dan Stefan Th. Gries (eds.).Corpus-based Approaches to Metaphor and Metonymy. New York: Mouton de Gruyter.
Hayes –Roth, Frederick. 1971. The Stiructure of Concepts. Cambridge: MIT Press
Hempel, Carl G. 1958. “The theoretician’s dilemma: a study in the logic of theory construction”. Dalam Feigl, Herbert; Scriven, Michael; dan Maxwell, Grover. (eds.) Concepts, Theories, and the Mind-Body Problem. Minneapolis: University of Minnesota
Haugh, Michael. 2002. “The intuitive basis of impliature: relevance theoretic implicitness versus Gricean implying”. Pragmatics. Vol. 12, No. 2, hal .117-134 
Hillix, William   A. dan L’Abate,  Luciano. 2012. “The Role of Paradigms in Science and Theory Construction”. Dalam L’Abate,  Luciano (ed.). Paradigms in Theory Construction. New York: Springer
Hiraga, Masako K. 2005. Metaphor and Iconocity: A Cognitive approach to analyzing text. New York: Palgrave Macmillan.
Hodges, Wilfrid. 1998. “Compositionality is not the problem”. Logic and Logical Philosophy. Vol. 6; hal. 7-33
Hurford, James R., Brendan Heasley, dan Michael B. Smith. 1984/2007. Semantics: A coursebook. (Edisi ke-2). Cambridge: Cambridge University Press
Iten, Corrine. 2005. Linguistic Meaning, Truth Conditions, and Relevance: The Case of Concessives. New York: Palgrave Macmillan
Jaccard, James dan Jacoby, Jacob. 2010. Theory Construction and Model-Building Skills: A Practical Guide for Social Scientists. New York: Guidford Press
Jackendoff,  Ray. 1983. Semantics and Cognition. Michigan: MIT Press.
______________ 1989. “What  is a  concept,  that a person may grasp it?” Mind and language. Vol. 4, No. 1, hal. 69-102.
______________ 2002Foundations of Language: Brain, Meaning, Grammar, EvolutionOxford: Oxford University Press.
Jakobson, Roman. 1956/1980. “Metalanguage as a linguistic problem” dalam Roman Jakobson, The Framework of Language. Michigan: Michigan Studies in the Humanities.
Johnson, Mark. 2005. “The philosophical significance of image schemas”. Dalam  Beate Hampe (ed.) bekerja sama dengan Joseph E. Grady. From Perception to Meaning:Image Schemas in Cognitive Linguistics. Berlin: Mouton de Gruyter
Kaplan, David. 1975/1996. “Dthat”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press.
____________ 1977/1989. “Demonstratives: an essay on the semantics, logics, metaphysics, and epistemology of demonstratives and other indexicals”. Dalam Joseph Almog, John Perry, dan Howard Wettstein (Eds.). Themes from Kaplan. Oxford: Oxford University Press.
Kadmon, N. 2001. Formal Semantics: Semantics, Pragmatics, Presupposition, and Focus. Oxford: Blackwell.
Katz, Albert N; Cacciari, Cristina; Gibbs, Raymond W; Turner, Mark. 1998. Figurative Language and Thought.  New York: Oxford University Press.
KearnsKate2000Semantics.  New York: Palgrave Macmillan.
Khairina Nasution. 2008. “Metafora dalam Bahasa Mandailing: Persepsi Masyarakat Penuturnya”. Linguistik Indonesia, Tahun ke 26, No. 1. Hal. 75–87
Kohtari, 2004. Research Methodology: Methods and Techniques. New Delhi: New Age International.
Kövecses, Zoltán. 2000. Metaphor and Emotion: Language, Culture, and Body in Human Feeling. Cambridge: Cambridge University Press.
______________ 2002. Metaphor: A Practical Introduction (1st Edition). Oxford: Oxford University Press.
______________ 2005. Metaphor in Culture: Universality and Variation. Cambridge: Cambridge University Press.
______________ 2010. Metaphor: A Practical Introduction (2nd Edition). Oxford: Oxford University Press.
KrachtMarkus. 2011Interpreted Language and CompositionalityNew YorkSpringer.
Lakoff, George dan Mark Johnson. 1980. Metaphors We Live By. Chicago:University of Chicago Press
Lakoff, George. 1991. “Cognitive versus generative linguistics: how commitments influence results”. Language and CommunicationVol11, No.1/2. Hal. 53-62
_____________ 1993. “The comtemporary theory of metaphor”. Dalam Andrew Ortony (ed.). Metaphor and Thought (2nd Edition). Cambridge: Cambridge University Press.
Langacker, Ronald W. 1987. Foundations of Cognitive Grammar. Vol. I. Stanford: Standford University Press
__________________ 2000a. Grammar and Conceptualization. Berlin and New York: Mouton de Gruyter.
__________________ 2000b. “Why a mind is necessary: conceptualization, grammar, dan linguistic semantics”. Dalam Liliana Albertazzi (ed.). Meaning and CognitionAmsterdamJohn Benjamins Publishing.
__________________ 2008. Cognitive Grammar: A Basic Introduction. Oxford: Oxford University Press.
__________________ 2009. Investigation in Cognitive Grammar. Berlin and New York: Mouton de Gruyter.
Larkin, Shirley. 2010. Metacognition in Young Children. London: Roudledge
Leech, Geoffrey. 1974/1981. Semantics: The Study of Meaning. Edisi ke-2. Middlesex: Penguin Books
Leezenberg, Michiel. 2001. Contexts of Metaphor. Amsterdam: Elsevier.
LeibnizGottfried Wilhelm von1765/1981New Essays on Human UnderstandingTerjemahan oleh Peter Remnant dan Jonathan Bennett. CambridgeCambridge University Press.
Lubis, Syahron. 2009. “Penerjemahan Teks Mangupa dari Bahasa mandailing ke Bahasa Inggris”. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Lunsford, Ronald F. 1980. Byron’s Spacial Metaphor: A Psycholinguistic Approach. Dalam Ching, Marvin K. L, Haley, Michale C, dan Lunsford, Ronald F. Linguistic Perspective on Literature. London: Roudledge & Kegan Paul.
Lycan, William G. 2000. Philosophy of Language: Contemporary Introduction. London: Routledge.
Lyons, J. 1987. “Semantics.” Dalam J. Lyons (ed.). New Horizons in linguistics.Vol. 2. London: Penguin. Hal. 152-178.
Margolis, Eric and Laurence, Stephen. 2012. "Concepts". Dalam Edward N. Zalta (ed.) The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2012 Edition)., URL = .
Mason, Jennifer. 1996. Qualitative Researching. London: Sage Publication
Mathiessen, C. M. I. M. 2009. “Ideas and new direction” dalam Halliday, M. A. K dan Webster, Jonathan (eds).Continuum Companion to Systemic Functional Linguistics. New York: Continuum
Mathiessen, C. M. I. M; Teruya, Kazihiro; dan Lam, Marvin. 2010. Key Terms in Systemic Functional Linguistics. New York: Continuum
Merriam-Webster Dictionary.http://www.merriam-webster.com/dictionary
Maykut, Pamela dan Morehouse, Richard. 1994. Beginning Qualitative Research: A Philosophic and Practical Guide. London: The Falmer Press.
McDowell, John. 1976/2005. “Truth conditions, bivalence, and verificationism”. Dalam Gareth Evans dan John McDowell (eds.). Truth and Meaning: Essays in Semantics. Oxford: Clarendon Press
McGlone, Matthew S. 2007. “What is the explanatory value of a conceptual metaphor”. Language and Communication, Vol.27, Hal. 109–126.
Mill, John Stuart. 1882/2009. A System of Logic: Ratioconative and Inductive. Edisi ke-8. New York: Harper and Brothers
Morris, Michael. 2007. An Introduction to the Philosophy of Language. Cambridge: Cambridge University Press
Moss, Helen E; Tyler, Lorraine K; dan Taylor, Kirsten I2007. “Conceptual structure”. Dalam M. Gareth Gaskell (ed.) Oxford Handbook of PsycholinguisticsOxford: Oxford University Press, hal. 217-234
Nerlich, Brigitte dan David D. Clarke. 2001. “Mind, meaning, and metaphor: the philosophy and psychology of metaphor in 19th century Germany”. History of the Human Sciences, Vol.14, No.2, Hal.39–61
Newman, Sara J. 2001. “Aristotle’s definition of rethoric in the Rethoric: the metaphors and their message”.Written Communication, Vol.18, No.1, Hal. 3–25.
Obitko, Marek. 2007. “Translations between Ontologies in Multi-Agent Systems”. Ph.D. dissertation. Faculty of Electrical Engineering, Czech Technical University in Prague.
Ogden, C. K dan Richards, I. A. 1923/1946. The Meaning of Meaning: A Study of the Influence of Language upon Thought and of the Science of Symbolism. Edisi ke-8. New York: A Harvest Book
Panther, Klaus-Uwe dan Radden, Gunter. 2011. “Introduction: reflection on motivation revisited”. Dalam Panther, Klaus-Uwe dan Radden, Gunter  (eds.). Motivation in Grammar and the Lexicon. Amsterdam: John Benjamins Publishing. Hal. 1–26.
Partee, Barbara H. 2004. Compositionality in Formal Semantics: Selected Papers by Barbara H. Partee . Oxford: Blackwell
Patterson, Douglas. 2012. Alfred Tarski: Philosophy of Language and Logic. New York: Palgrave Macmillan
Potts, Christopher. 2005. The Logic of Conventional Implicatures. Oxford: Oxford University Press
PrandiMichele2004The Building Blocks of Meaning: Ideas for a Philosophical GrammarAmsterdamJohn Benjamins Publishing
PredelliStefano2001Contexts: Meaning, Truth, and the Use of LanguageOxfordClaredon Press
Putnam, Hilary. 1975. Mind, Language, and Reality: Philosophical Papers. Vol.2. Cambridge: CUP.
Quine, Willard Van Orman. 1953/1961. From A Logical Point of View. Edisi ke-2. New York: Harper Torchbooks
______________________ 1960. Word and Object. Cambridge: MIT Press
______________________ 1970/1986. Philosophy of Logic. Edisi ke-2. New York: Harper Torchbooks
Rand, Ayn. 1966. Introduction to Objectivist Epistemology. New York: A Meridian Book
Recanati, Francois. 2004. Literal Meaning. Oxford: Oxford University Press.
_______________ 2005. “Literalism and contextualism: some varieties”. Dalam Gerhard Preyer dan Georg Peter (eds.). Contextualism in Philosophy: Knowledge, Meaning, and Truth. Oxford: Clarendon Press
_______________ 2007. Perspectival Thought: A Plea for (Moderate) Relativism. Oxford: Oxford University Press.
_______________ 2010. Truth Conditonal Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.
Riemer, Nick. 2010. Introducing Semantics. Cambridge: Cambridge University Press.
Romero, Esther dan SoriaBelen. 2003Cognitive Metaphor Theory Revisited. Makalah disajikan pada the II Latin Meeting for Analytic Philosophy in Aix en Provence (13-15 November 2003).
____________________________ 2007aMetaphors: What is Said or What is Implicated?. Makalah disajikan pada the Riga Conference on Metaphor dan the 15th Annual Meeting of the ESSP di Geneva.
____________________________ 2007b“A View of Novel Metaphor in the Light of Recanati’s Proposals”.Dalam María José Frápolli (ed.). Saying, Meaning and Referring: Essays on François Recanati's Philosophy of Language. New York: Palgrave Macmillan. (hal. 145-159)
Rohrer, Tim. 2007. “Embodiment and experientialism”. Dalam Dirk Geeraerts dan  Hubert Cuyckens. The Oxford Handbook Of Cognitive Linguistics. Oxford: Oxfor University Press. Hal. 25 – 47.
Rudi Hartono. 2011. “Penerjemahan Idiom dan Gaya Bahasa (Metafora, Kiasan, Personifikasi, Aliterasi) dalam Novel  ‘To Kill a Mockingbird’ Karya Harper Lee dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia (Pendekatan Kritik Holistik)”. Disertasi. Tidak dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Ruhl, Charles. 1989. On Monosemy: A Study in Linguistic Semantics. NewYork: State University of New York Press.
Russell, Bertrand. 1922/2001. “Introduction” dalam Wittgenstein,  Ludwig Tractatus Logico-Philosophicus. Terjemahan oleh D. F. Pears dan B. F. McGuinness.  London: Roudledge.
Saeed, John I. 2003. SemanticsEdisi ke-2. London: Blackwell.
Sauerland, Uli dan Stateva, Penka. 2007. “Introduction”. Dalam Uli Sauerland dan Penka Stateva (eds.).Presupposition and Implicature in Compositional Semantics.  New York: Palgrave Macmillan
Schartz, Bennett L. dan Perfect, Timothy J. 2004. “Introduction: toward and applied metacognition”. Dalam Perfect, Timothy J. dan Schartz, Bennett L. (eds.). Appled Metacognition. Cambridge: Cambridge University Press.
Schiappa, Edward. 2003. Defining Reality Definitions and the Politics of Meaning. Carbondale: Southern Illinois University Press
Searle, John R. 1978. “Literal meaning”. ErkenntnisVol. 13.  Hal. 207-224
___________ 1975/1996. “Indirect speech act”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. (3rd Edition).  New York: Oxford University Press.
___________ 1975/1996. “Indirect speech act”. Dalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. (3rd Edition).  New York: Oxford University Press.
___________ 1979/1993. “Metaphor”. Dalam Ortony, Andrew (ed.). Metaphor and Thought. 2nd edition. Cambridge: Cambridge University Press.
___________ 2008Philosophy in A New Century: Selected EssaysCambridge: Cambridge University Press.
Smith, L. 1986. Behaviorism and Logical Positivism: A Reassessment of Their Alliance. Stanford: Stanford University Press.
Speaks, Jeff. 2011. "Theories of Meaning", The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2011 Edition), Edward N. Zalta (ed.), URL = .
Sperber, Dan dan Wilson, Deirdre. 1995. Relevance: Communication and Cognition. Edisi ke-2. Oxford: Blackwell.
Stern, Josef. 2000. Metaphor in Context. Cambridge: The MIT Press.
__________ 2006. “Metaphor, literal, literalism”. Mind and Language, Vol.21, No.3, Hal.243–279.
__________ 2009. “Metaphor and minimalism”. Philos StudSpringer, DOI 10.1007/s11098-009-9486-3
Sudaryanto. 1983. Predikat-Objek dalam Bahasa Indonesia: Keselarasan Pola-Urutan. Jakata: Djambatan.
__________ 1993. Metode dan Aneka Teknis Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
__________ 1990. Aneka Konsep Kedataan Lingual dalam Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press
Talmy, Leonard. 2000. Toward A Cognitive Semantics Volume I: Concept Structuring Systems. Cambridge: MIT Press
Tarski, Alfred. 1944/1986. “The semantic conception of truth and the foundations of semantics”. DalamDalam A. P. Martinich (Ed.). The Phyloshophy of Language. 3rd Edition.  New York: Oxford University Press. Hal. 61 – 84.
____________ 1956. Logic, Semantics, Metamathematics: Papers from 1923 to 1938. Terjemahan oleh J. H. Woodger. Oxford: The Claredon Press
Tendahl, Markus. 2009. A Hybrid Theory of Metaphor: Relevance Theory and Cognitive Linguistics. Hampshire:Palgrave Macmillan
Verhaar, J. W. M. 1970. Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius.
Verhagen, Arie. 2007. “Construal And Perspectivization”. Dalam Dirk Geeraerts dan  Hubert Cuyckens. The Oxford Handbook Of Cognitive Linguistics. Oxford: Oxfor University Press.
Vygotsky, Lev. 1934/1986. Language and Thought. Massachusette: MIT Press
Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik: Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.
Weiskopf, Daniel A. 2011. “The theory theory of concepts”. Internet Encyclopedia of Philosphy. http://www.iep.utm.edu/th-th-co/  diakses 14 Mei 2011
Wilson, D. dan Sperber, D. 2000. “Truthfulness and Relevance” UCL Working Papers in Linguistics , Vol. 12,  hal. 215-254.
Wittgenstein,  Ludwig. 1922/2001. Tractatus Logico-Philosophicus. (Dengan Pengantar dari Bertrand Russell). Terjemahan oleh D. F. Pears dan B. F. McGuinness.  London: Roudledge.
____________________ 1953/1986. Philosophical  Investigations (edisi ke-2). Terjemahan oleh G.  E.  M.  Anscombe dari tulisan Wittgenstein 1945-1949. Oxford: Basil Blackwell.
Wijana, I Dewa Putu. 1997. “Slogan sebagai wacana persuasif: Studi kasus wacana kampanye pemilihan BEM dan SM Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1996”. Humaniora. Vol.IV. Hal. 26-31.

Zaimar, Okke Kusuma Sumantri. 2002. “Majas dan pembentukannya”. Makara, Sosial Humaniora. Vol. 6, No. 2, hal. 45–57.


No comments:

Post a Comment